Alasan Berhenti jadi Gamer

Sama seperti halnya perempuan yang nggak bisa lepas dari imej dandannya, maka pria pun begitu tak bisa lepas dari imej gamernya. Pokoknya kalo perempuan terkenal dengan jago dandan maka laki-laki terkenal jago nge-game (game yah, permainan bukan main-main; kaya main perempuan). Tapi di dunia terbalik ini banyak juga kog perempuan yang jago main game dan laki-laki yang jago dandan dan jago selfi.

Kalau mau bicara soal icip-icip game, rasanya hampir semua genre game udah di coba. Dan yang terakhir kemarin adalah jenis MOBA (saya mainnya Mobile Legend)  beberapa screen shootnya  saya jadikan meme.

Satu hal yang dirasakan ketika bermain game (khususnya game online) adalah waktu mainnya yang tidak sebentar dan progress gamenya lambat banget. Berbeda dengan kebanyakan game offline yang bisa selesai dalam hitungan bulan bahkan ada yang cuma mingguan tapi game online butuh waktu tahunan agar mencapai level maksimal alias mentok. Dan minim sekali dibutuhkan waktu setengah jam buat mainin game tersebut dalam sehari. Ini setara kaya jatah minimal cewe dandan sebelum pergi kencan dengan gebetan.

Saya nge-game cuma buat game, nggak diseriusin buat jadi game streamer karena mainnya saya abal-abal dan nggak begitu konsen dengan item-itemnya yang begitu kompleks. Karena alasan itulah saya akhirnya memutuskan untuk berhenti dan vakum dari dunia game. Dan akun game itu daripada mubazir saya kasihkan ke sepupu yang juga masih awalan dan awam seperti saya.

Alhasil saya jadi lebih fokus lagi buat nge-blog, latihan bikin meme dan keluyuran buat nyari obyek aneh yang bisa dijadiin meme yang nyatanya nggak kalah menyenangkan dari bermain game. Sejauh ini saya sukses ninggalin game dan tak mempan meski teman mabar ngajak buat terjun lagi dan install ulang game yang udah saya depak dari henpon.

Prinsipnya sih, kalau itu nggak berdampak serius buat hidup ini buat apa diseriusin. Mau ikut-ikutan jadi gamer terkenal dan jadi streamer lalu beli mobil sport dari hasil itu rasanya nggak mungkin karena saya nggak pernah jago main game  dan  mungkin sekali sejak lahir dunia saya adalah dunia tulis. Jadi sejauh apapun saya terseret jauh dari dunia tulis ini  pasti saya  akan kembali dan kembali. Karena mungkin hanya dunia tulislah yang bisa saya taklukan. (hehehe…jadi boros kata mungkin).

Dan buat yang ngajak mabar dan ngajak main lagi, mungkin tulisan ini bisa menjadi jawaban yang gamblang ketimbang saya harus jelaskan lagi-lagi tiap ketemu atau papasan di jalan.

Miss The Mist

img20190121101203.jpg

Warna abu-abu lembut nan sejuk seakan menjadi selimut alam dan memeluk dengan bumi ini dengan pesonanya. Siapa yang tak terkesima dengan fenomena alam yang luar biasa seperti itu sampai-sampai saya dibuat jatuh cinta dengannya.

Belakangan memang saya selalu mengabadikan momen ketika kabut mulai turun menyapa desa kami. Seolah bahwa kabut itu adalah hal yang terjadi seribu tahun sekali. Padahal kabut yang menawan itu akan selalu menjadi fenomena alam yang sangat lumrah ketika musim hujan telah tiba.

Tapi tetap saja jiwa ini tak mau melepaskan momen-momen indah ketika sang raga mulai menikmati belaian lembut kabut-kabut itu.

Rasanya ada kedamain kecil yang mencuat bersama beberapa kenangan terlintas kembali di benak dan pikiran ini. Seolah alam dengan sengaja memanggil kenangan masa lalu ketika kaki-kaki ini menjelajah alam menuju tempat dimana kabut tak pernah pergi dari tempat itu. Itu sudah lama sekali.

img20190121101424

img20190121101411

 

Letupan Emosi

Funny-angry-birds-anger-management

Jika memang mau menengok realita bumi yang sekarang, apa sih yang sepertinya nggak bikin marah, semuanya seperti tak pernah sesuai dengan harapan dan impian. Apalagi di jaman yang katanya now ini yang jempol dan mulut netijen bukan hanya makin pedes tapi bikin mencret juga seolah mereka makan cabe saban hari. Mereka itu seperti pemicu marah nomor satu yang bisa merembet pada stroke dan gagal jantung.

Hakikinya marah bukanlah milik wanita PMS saja karena marah adalah salah satu sifat dasar manusia ketika ia tidak terima dengan keadaan yang ada, baik karena tersinggung, terancam atau bahkan terhina. Meski marah cenderung pada emosi yang negatif tapi marah tak selamanya buruk karena ada orang yang bisa menempatkan amarahnya pada waktu, pada orang dan pada situasi yang tepat sehingga marahnya mencapai sesuatu  yang positif. Tapi orang seperti itu hanya ada satu dari satu milyar manusia bego di bumi (kalo itungannya bener sih harusnya segitu).

Pun begitu saya pun pernah marah dan kemarahan itu sampai juga pada puncaknya. Sebagai catatan pribadi, ada tiga  kemarahan yang selalu saya ingat dan menjadi catatan agar kedepannya bisa lebih lagi bersikap masa bodoh terhadap sesuatu yang menjengkelkan dan menyulut emosi.

Kelarin Baca !