Bom itu…?

Seperti bom, setiap mili ledakannya punya efek besar. Tapi tidak semua bom meledak, mungkin tidak ada yang menarik pemicunya atau seseorang telah menjinakannya, melumpuhkan ledakan besarnya sebelum terjadi. Tanpa disadari, setiap manusia mempunyai bom yang tersimpan sejak lahir. Bukan bom waktu, granat, dinamite atau atom. Tapi sama saja, setiap ledakannya punya pengaruh yang luar biasa. Bom itu bernama bakat. Kita tidak tahu bom apa yang dimiliki setiap manusia, terlalu banyak jenis jika bicara bom yang ada pada diri manusia atau bom kehidupan. Ambilah Sinta dan Jojo yang meledak hanya dengan webcam, pemicunya sederhana, Youtube.

Tiga Besar

Jika memang saya berbeda dari kebanyakan orang mungkin karena tiga hal ini.

1. Rokok

Saya adalah orang yang berbahagia karena saya tidak masuk dalam kategori perokok yang selalu di ancam oleh iklan – iklan di media masa “Merokok membunuhmu”. Meskipun disana sini sering mendapat cibiran bernada pujian.

”Nggak ngerokok toh mas, pantesan gemuk !”

Saya luruskan berita bohong ini, saya bisa seperti ini bukan karena saya tidak merokok. Biarpun saya tidak merokok tapi saya kurang makan, saya bisa kurus, lebih kurus daripada perokok itu sendiri. Saya gemuk bukan karena perokok, tapi karena saya rajin makan. Perkara yang saya makan itu rokok atau sebangsanya, itu lain soal. *nggragas !

2. Bola

Saya bukanlah pecinta bola ! Tahu aturan mainnya pun tidak, yang saya tahu dari sebuah pertandingan sepak bola adalah bahwa orang – orang saling mengejar bola dan berusaha memasukannya ke gawang lawan. Sejauh yang saya tahu, bahwa bola yang diperebutkan tetap bulat dan lapangan itu masih sama kotak, tidak ada yang berubah. Saya tidak bisa menikmati hal yang seperti itu. Meski kebanyakan orang selalu antusias dan berapi – api jika membahas masalah yang satu ini, tapi jika membahasnya dengan saya, maka api itu akan padam dengan segera dan tak pernah nyala lagi.

3. Politik

Saya tidak melek politik dan memang saya tidak pernah membukakan mata saya untuk hal – hal yang seperti itu. Ada persepsi tersendiri mengenai dunia politik. Buat saya, dunia politik sudah terlalu dipenuhi oleh mafia – mafia yang punya urusan besar atas aset Indonesia yang menjanjikan sebuah kesejahteraan dan kekayaan. Rakyat kecil seperti saya hanya sebuah alat dan tameng atas nama demokrasi untuk mengeruk kekayaan Indonesia itu. Disamping itu saya juga tidak mau ikut-ikutan menyebarkan, mengobral janji – janji para calon pemimpin. Saya tidak pernah tahu itikad sesungguhnya dari hati mereka, makanya ketika mereka menyuarakan janji – janji beserta harapan – harapannya saya tidak merta tergiur apalagi sampai ikut-ikutan meyakinkan orang lain bahwa janji mereka adalah sebuah janji manis yang pasti menjadi kenyataan. Apakah saya acuh terhadap politik ? Tidak juga, saya peduli, cuma tidak sefanatik orang yang saya temui kesehariannya, termasuk ayah saya. Jika memang saya harus mengerti tentang politik dan orang – orangnya, itu hanya sekedar pengetahuan dasar untuk memilih calon mana yang baik untuk negeri ini. Jika suatu nanti ternyata pilihan saya salah, toh saya sudah berusaha mengenal mereka sebaik yang saya bisa.

Tapi jangan lupa, jika suatu saat saya mencalonkan diri menjadi anggota dewan atau malahan presiden, panjenengan wajib milih saya ! Jika memang ada yang kurang jelas tentang visi dan misi yang saya bawa, saya siap menjelaskan secara detail kepada panjenengan. Jika itu masih kurang jelas, saya sudah siapkan beberapa uang lembaran merah buat panjenengan. *haiyah….!