Shadow of The Past

Minggu ini terpaksa saya membaca cerita lama, cerita yang harusnya ditutup terpaksa dibuka lagi untuk terakhir kalinya.
Berawal dari salah satu media sosial, seorang temen ngabarin bahwa dia ketemu dengan dia di bebe’em. Dia adalah orang yang tak boleh disebut namanya, orang yang seharusnya tak bernama, dialah Poldermort, eh mantan maksudnya. Namun dengan tegas saya tegaskan bahwa itu adalah masa lalu, saya tak mau bahas hal itu.
Selang berapa hari di aplikasi ceting, temen di Jakarta ngajakin jalan-jalan ke Monas sekalian sama mantan. Kampret !Mereka kompak bener nge-bully seorang “gue” tanpa tendensi.
Tak cukup sampai disitu, karena Ayah saya yang notabene ortu panutan, nanyanya ngenes banget.
“Nak, kapan cari gebetan ? Apa masih nungguin CLBK sama mantan ?”
Uh, jleb !
Diem lama, trus akhirnya bernafas lagi setelah rada – rada pusing dan sempoyoran. Saya nggak percaya bahwa dari temen hingga keluarga, mereka nanyain dan ngingetin hal yang sama.
Wokeh, saya memang tidak jomblo sekarang meskipun saya singgel. Harap bisa dibedain antara jomblo dengan singgel dan singgel peren !Jomblo adalah manusia yang tidak laku-laku dan terancam menjadi manusia yang berkarat tapi singgel adalah jomblo expert, jomblo yang sudah ber-experience, jomblo yang yang kaya akan pengalaman disakitin, diselingkuhin dan di pehapein. Sedangkan singgel peren adalah orang tua tunggal semisal ayah yang merangkap jadi ibu atau ibu yang merangkap jadi ayah.  secara biolohisnya itu hemaprodit alias kelamin ganda.
Haiyah !
Hingga semalem, setelah memunculkan tanda-tanda yang tidak lazim, akhirnya dia yang tak boleh disebut namanya datang juga lewat sebuah panggilan tak terjawab, tentunya dengan nomor baru.
Semenjak saya kehilangan henpon di Majenang, itu memang menghilangkan semua kontak, termasuk kontak mantan. Satu-satunya media yang aktif dulu adalah pesbuk. Namun karena berbagai alasan maka pesbuk telah saya matikan sejak lama, beberapa bulan sebelum bulan puasa kemarin. Dan penghapusan akun pesbuk itu bukan semata-mata karena mantan, tapi lebih pada sisi manfaatnya. Cieeee !
Ada banyak hal yang bikin saya gerah di pesbuk, gerah dan pengen remove pertemanan satu – satu tapi temennya udah kelanjur banyak, ribuan, jadi dihapuslah akun pesbuk.
Diantara yang saya nggak suka di pesbuk adalah status yang dikit-dikit ngeluh, merana karena sepi, status do’a yang lebih memojokan tuhannya dan masih banyak lagi. Dan semua itu tidak ada manfaatnya sama sekali. Lagian dari sekian ribu temen di pesbuk cuma satu dua orang doang yang kenal.
Begitulah, semenjak nomor saya tidak aktif, pesbuk dimatikan, pasti dia rajin baca blog ini, dan nyari kontak sama temen-temen deket saya. Hingga akhirnya dia dapat nomor saya entah dari siapa.
Kita ngobrol via pesan singkat, namun dalam obrolan itu masih ada sisa-sisa emosi dulu, pesan yang saya kirimkan masih dalam nada tinggi dan menghakimi.
Dan dalam pesan terakhir, saya menegaskan bahwa saya minta dia tidak hadir lagi dalam lembaran cerita yang baru saya mulai.
Mungkin saya adalah orang yang kejam dan tidak punya perasaan terhadap mantan. Tapi saya tidak kejam pada masa depan yang saya lanjutkan. Saya hanya ingin membersihkan kursi di sebelah saya. Saya ingin bahwa orang yang duduk di sebelah saya nanti duduk dikursi yang bersih, bersih dari campur tangan dan cerita masa lalu. Saya ingin orang yang duduk di sebelah saya nanti duduk dengan nyaman sementara saya nyaman bercerita dan menuliskan cerita tentangnya. Tentunya tanpa masa lalu terbawa.

Iklan

A Girl Named Ades

Saya pengen cerita ketika masa-masa SMA dulu, masa ketika saya lagi unyu-unyunya, lagi caper, carmuk, jaim dan penyakit aneh lainnya. Hehehe, tenang saja ! Saya tidak seheboh dan seterkenal itu, sebenarnya saya adalah siswa sederhana, lugu (boleh dibaca : bodoh), kuper dan cenderung nerd. Saya bukanlah anggota pasukan murid keren dan kece yang datang ke sekolah dengan gaya mempesona dan kumpul dengan siswa sejenisnya. Tidak, sama sekali tidak. Sesuai dengan spesiesnya saya kumpul dengan para kutu buku dan siswa tidak terkenal lainnya. Kerjaan rutin dan aktivitas wajibnya cukup ngetrend waktu itu, menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan, baca – baca buku lalu meminjamnya yang tentu saja tidak dikembalikan.  Dan aktivitas minjam tidak dikembalikan masih saya lestarikan dan pertahankan hingga sekarang.

Hari itu langit cerah dan tiba-tiba saja negara api menyerang, tapi dengan bantuan Avatar Eng, negara api bisa dikalahkan. Ups, sori ! Ngelantur nih nulisnya.

Waktu itu ada praktek dilaborat, saya lupa itu praktek biologi, fisika ato kimia, saya ingetnya hari itu saya mainan banyak alat dari kaca yang gede bawahnya tapi atasnya kecil, mirip contong es krim tapi nggak bisa dimakan. Ketika praktek sedang berjalan, datanglah seorang siswi mendekat, sebut saja namanya Ades (nama sebenarnya). Lalu dia berkata,”Mas, nanti ada waktu nggak ? Aku mau cerita, penting!”

Saya bingung waktu itu, cerita apa ? Pentingnya kenapa ? Tapi akhirnya saya terima ajakan cerita mencerita itu, sepertinya memang menarik. Rasa penasaran tentang cerita itu saya pendam hingga waktunya tiba nanti.

Alkisah waktu begitu cepat berlalu dan waktu istirahat pun datang juga. Saya duduk di bangku paling pojok dan belakang sebelah kiri dari arah guru. Di waktu istirahat itu, saya tidak beranjak dari tempat duduk, saya menunggu Ades dengan cerita yang dijanjikannya.
Ades pun datang dan duduk bersebelahan, saya pun memandangnya dengan antusias. Dia pasti akan bercerita tentang naga – naga legenda dari jaman purba yang kemudian berteman sama manusia, setelah berteman lama dengan manusia, ternyata naga itu adalah naga jadi-jadian, naga itu adalah seorang putri yang berparas jerita. Akhirnya putri naga itu menikah dengan manusia yang menjadi temannya, kemudian mereka bahagia selamanya hingga akhir hayat.

Tapi ternyata salah, Ades bukanlah pendongeng mahluk-mahluk mitos seperti yang saya gandrungi. Ades mengawali ceritanya dari ibu dan saudara angkatnya. Ades tidak bahagia dengan kehidupan itu. Ades merasa bahwa ada kasih sayang yang berat sebelah antara dirinya dengan saudara angkatnya.

Aslinya saya gemetaran setengah mati waktu itu, grogi dan rasa campur aduk lainnya. Meski saya sudah bersikap sok bijak dengan petuah-petuah tua dan saran yang mungkin dia perlukan, tapi semua itu tidak bisa menguasai keadaan. Ades cerita sambil nangis sodarah-sodarah !

Saya kaku, bingung, spechless dan nggak tahu harus ngapain. Ini pengalaman seumur hidup ngadepin temen gadis nangis di kelas, dipojokan, berdua lagi. Mau meluk dan belai rambut kaya di pilem-pilem Koreah gitu tapi takut dikira nyari kesempatan. Ya udah, cerita istirahat itu berjalan dengan Ades nangis dan saya diem liatin dia nangis. Temen-temen sekelas waktu itu ngeliatin saya penuh tanda tanya. Takut juga saya dikira nge-bully Ades sampe nangis sesegukan.

Setelah tragedi tangis menangis dan diem-dieman itu divonislah saya itu sebagai kakaknya dan saya pun terima Ades sebagai adik saya. Lumayan, adek saya nambah satu tanpa perlu repot-repot emak ngandung 9 bulan. Berterima kasihlah Mak pada anakmu ini, anakmu ini secara illegal telah mengadopsi anggota keluarga baru.

Dinilai secara teknis bahwa Ades itu sensitif (gampang nangisan) ditambah saya yang kebingungan ngadepin orang nangis, jadilah keputusan bahwa cerita mencerita itu disambung dan dilanjutkan lewat surat-menyurat. Jaman segitu belum musim henpon kaya sekarang, henpon mewah waktu itu Nokia 6600. Pokoknya keren deh kalau liat orang megang henpon jenis itu.

Surat menyurat pun berlanjut, Ades nulis surat buat saya bawa pulang. Dirumah saya baca lalu saya bikin balesannya. Sebagai orang yang bakat nulis, saya selalu balesin pake kertas folio dan penuh. Ini dimaksudkan agar setiap jengkal petuah saya tidak ketinggalan dan tertulis semua.

Drama surat – menyurat itu berakhir dengan Ades yang bercerita tentang hubungannya dengan kekasihnya. Setelah surat itu, Ades tak pernah memberi saya surat lagi. Setelah itu kita naik kelas dan pisah. Ades di IPS 1 dan saya di IPS 3. Sejak saat itu saya cuma senyum ketika berpapasan dengannya. Tidak kontak komunikasi lagi dengannya hingga sekarang. Kabar terakhir yang saya dengar adalah dia meneruskan kuliahnya di Semarang sebagai bidan kalau bukan perawat.

Selamat hari Minggu, selamat akhir Agustus Des, kakakmu ini rindu kabar darimu. Masihkah engkau secengeng dulu ?

Merdeka

Merdeka  ! Salam Indonesia !

Oke, untuk kesekian kalinya saya juga mau ngabarin, saya masih hidup dan sehat. Saya jarang tampil di layar kaca, menghiasi komputer atau tablet dan HH, tapi saya masih nulis. Blog ? Masih juga dong, masih baca – baca tulisan temen – temen yang saya follow, cuma belum pengen komen aja (nuntasin RSS Feed).

Saya lagi offline, nulis offline. Disela – sela tugas jadi kameramen, saya juga nulis untuk event bulan November. Itu artinya bahwa blog masih saya kesampingan dulu.

Oh iya lupa, panjenengan dapet salam dari Caca !

Merdeka !