Saung

Tapi bukan serta merta ketertarikan itu yang membuatnya “mengiyakan” saat saya mengajaknya untuk pacaran secara resmi di depan penghulu. Tapi ide – ide saya yang katanya konservatif dan kepedulian saya tentang hal – hal yang berbau sosial. Singkatnya, dia cinta kepada saya, seorang pemerhati sosial. Aneh memang ketika pemerhati lingkungan alam jatuh hati pada pemerhati sosial.

“Ayam bakarnya dua sama minumnya es jeruknya dua dan air putihnya satu.”

Pesanannya diterima oleh pelayan tadi, kemudian menghilang dari hadapan kami.

Seminggu sekali atau sebulan sekali kami selalu menyempatkan untuk menikmati ayam bakar di saung yang letaknya tidak jauh dari universitas tempat kami kuliah dulu. Sekedar romantisme atau hanya untuk sekedar mengobati kekangenan lidah ini pada ayam bakar yang rasanya tiada tandingannya.

Di saung inilah dulu kami mencoba mengenal satu sama lain. Di saung inilah kami berbagi rasa, berbagi cerita dan saling berkomentar ini dan itu setiap hari. Mengomentari pada dosen – dosen yang rajin ngasih tugas tapi paling pelit ngasih nilai. Di saung inilah saya menjadi pendengar setia untuk wanita yang ku pilih sebagai pendamping perjalanan hidup. Mendengarkan kejahilan para manusia secret admirer yang terus – terus menerornya.

“Kenapa sih mereka terus sembunyi – sembunyi dan pakai rahasia – rahasian segala. Kalau suka ya mbok bilang suka !”

Hari itu kejengkelannya memuncak oleh teror salah satu pengagumnya. Mulai dari kiriman mawar, coklat hingga panggilan dan pesan yang tidak diketahui oleh identitasnya. Dan semua itu dibubuhi kata – kata gombal yang sama sekali tidak menarik hatinya.

“Mungkin mereka tahu kamu galak, makanya mereka lebih milih sembunyi – sembunyi,”Sahutku waktu itu.

Dia hanya meringis kecil sambil menggulung buku yang dipegangnya lalu memukulnya lirih ke kepalaku. Nerima saja, memang begitulah cara meredam amarahnya, jangan memprovokatori dan memaklumi segala tindakan anarkisnya.

Sebagai seorang mahasiswa yang aktif dan aktivis peduli lingkungan dia memang sosok yang beda. Dia perempuan yang tidak suka bertele –tele dengan ucapan seseorang yang dianggapnya terlalu teoritis. Dia perempuan yang talktive dan tak mau ngalah kalau soal debat masalah kerusakan alam.

Tapi anehnya dari sekian puluhan lelaki yang menarik perhatiannya kenapa pilihan jatuh pada saya, mahasiswa udik yang jarang masuk kuliah, lebih suka baca majalah daripada modul dan paling sering berurusan dengan dosen.

Tapi bukan serta merta ketertarikan itu yang membuatnya “mengiyakan” saat saya mengajaknya untuk pacaran secara resmi di depan penghulu. Tapi ide – ide saya yang katanya konservatif dan kepedulian saya tentang hal – hal yang berbau sosial. Singkatnya, dia cinta kepada saya, seorang pemerhati sosial. Aneh memang ketika pemerhati lingkungan alam jatuh hati pada pemerhati sosial.

Tapi toh pernikahanan kami langgeng hingga sekarang. Baik dia atau saya saling memahami ketertarikan masing – masing, jika memang perlu kita memang berbagi ide atau cerita dan saran. Selain itu kita lebih memilih diam dan menyaksikan kegiatan masing – masing.

Pesanan akhirnya datang juga, menghentikan perjalanan waktuku menyusuri masa lampau. Kita sudah semakin tua dan ayam bakar itu masih tetap sama, tetap sama aroma, cita rasa dan cinta yang terselip di dalamnya.

Iklan

Penantian Zahro

Erat, ku peluk tubuh mungilnya di siang itu sembari ku bisikan sesuatu ke telinganya,”Aku sudah pulang Zahro, aku sudah pulang, disisimu ! Suamimu sudah pulang! Kini engkau boleh bercerita tanpa takut membayar tagihan telfon yang menggunung atau kehabisan pulsa. Engkau bisa lampiaskan kemarahanmu, kekecewaanmu, kegemasanmu padaku secara langsung, bukan pada piring atau gelas yang kau temui.”

Dia terdiam dan tersudut di ruang tamu itu menyambutku. Tak ada kata – kata yang meluncur dari bibir manisnya, tak seperti kemarin begitu antusias bicara ini itu ketika dikabarkan aku akan pulang. Hari ini ketika aku sudah ada di depannya, ia hanya terdiam membisu dan memilih untuk menyandarkan dan membenamkan kepalanya di dadaku.

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk meninggalkannya sendirian. Tapi apalah daya, aku harus mengejar beasiswaku di Jepang, beasiswa belajar perfilman kartun disana. Meski awalnya dia menolak untuk ku tinggalkan, akhirnya dia luluh juga. Mungkin dia tak sampai hati ketika melihat wajah berapi – apiku menyambut perjalanan belajar ke negeri samurai itu.

Ketika akhirnya aku benar – benar di Jepang, tak waktu seharipun terlewat tanpa suaranya lewat gagang telfon. Ia selalu bercerita tentang desanya, tentang tetangganya dan semua kejadian di sekitarnya. Ia juga tak henti – hentinya mengingatkanku untuk selalu menjaga kesehatan, mengingatkan makan, minum susu dan hal kecil lainnya.

“Mana yang kau ceritakan selama aku di Jepang itu ?Aku juga ingin melihatnya,”Ucapku sambil mengusap keningnya dalam balutan kerudung warna biru muda lembut. Ia masih betah berlama – lama mendengarkan irama degup jantungku yang katanya aneh itu.

“Yang mana ?”Sahutnya seraya mendongkat sedikit menatap wajahku penuh haru.

“Semuanya,”Jawabku singkat.

Wajahnya kembali menunduk, membisu untuk beberapa detik hingga akhirnya terdengar kembali suara khasnya, kecil dan ringan.

“Tentang sawah itu, padinya tumbuh subur dan panen melimpah. Bunga – bunga di halaman rumah kita juga tetap mekar meski bukan kau lagi yang menyirami. Pedagang di perempatan sana juga masih jualan juga penjual martabak itu, mereka masih sama disana.”

Suaranya terhenti, namun aku tahu suara itu pasti berlanjut kembali. Cerita itu masih terlalu sedikit dibanding biasanya.

“Mentari tetap bersinar, anak – anak tetap berlalu lalang untuk sekolah dan semuanya berjalan seperti biasanya. Tak ada yang beda meski tanpa kehadiranmu disini. Hanya satu yang seharusnya kamu cari tahu, hatiku ? Hatiku tak seperti itu, sama dan sama setiap hari tanpa kehadiranmu. Jika aku padi, mungkin aku tak pernah panen. Jika aku bunga mungkin aku tak pernah mekar dan semua tak akan pernah terjadi. Tak akan !”

Nadanya mulai berubah, ceritanya sudah berlanjut hingga menyentuh rasa terdalamnya. Sudah ku duga, dia pasti menangis kali ini.

Erat, ku peluk tubuh mungilnya di siang itu sembari ku bisikan sesuatu ke telinganya,”Aku sudah pulang Zahro, aku sudah pulang, disisimu ! Suamimu sudah pulang! Kini engkau boleh bercerita tanpa takut membayar tagihan telfon yang menggunung atau kehabisan pulsa. Engkau bisa lampiaskan kemarahanmu, kekecewaanmu, kegemasanmu padaku secara langsung, bukan pada piring atau gelas yang kau temui.”

Dan tangis itu semakin mengeras. Aku menikmatinya, menikmati tangis sang istri siang itu.

Cerpen : The Legend of Gita Jatuh Cinta

Ini mengingatkanku pada jaman SMA dulu, waktu doyan-doyannya bikin cerpen dan pengen bikin yang serupa. Dulu bikin cerpen gagal-gagal terus, susah juga bikin cerpen yang sesuai keinginan dan pas di hati. Padahal pas waktu baca cerpen orang lain dengan enak bisa komen ini itu kurang ini itu. Giliran bikin sendiri kenapa susahnya bukan main yah ?

Saya masih ingat cerpen pertama yang jadi adalah cerpen yang saya publikasikan lewat buletin dakwah di SMA dulu (An Nadwah). Judul cerpen itu adalah “The Trip to Heaven in Mexico”. Cerita tentang mualaf asing di Meksiko yang gugur dalam sengketa antar Gang yang risau dengan banyaknya mualaf termasuk salah satunya yang merupakan teman dekat si Gangster itu.

Ceritanya sungguh nggak keren, baik tata bahasa dan penulisan sungguh kacau. Saya sendiri cengar-cengir kalau baca cerpen saya tadi. Jelek banget sumpah !

Cerpen tersebut masih melekat kuat oleh idola saya, Bunda Helvi Tiana Rosa. Karena sering baca cerpen-cerpen tentang perjuangan Islam dan kehidupannya dari majalan Annida yang dipunyai oleh sepupu, jadilah saya ketularan bikin yang serupa.

Kini sambil iseng saya nulis cerpen lagi sambil nulis-nulis yang lain. Yah, sekedar kembali ke masa SMA dulu. Saya tidak menyediakan versi postingan, tapi saya bersuka hati menyediakan versi pdf. Silakan di download buat yang penasaran atau sekedar iseng pengen baca. Komen dan segala pisuhannya saya terima di komentar.

Monggo di download.

button-download