Pesan dari Puncak Merbabu

Akhir tahun 2017 kemarin dihabiskan dengan menjajagi puncak Gunung Merbabu bersama 7 orang lainnya. Tapi cerita yang saya bagi tidaklah tentang pendakiannya atau pamer keindahan alam dari puncak sebagaimana waktu menaklukan puncak Gunung Sindoro karena pendakian ke Gunung Merbabu membawa cerita lain, sebuah cerita berupa pesan untuk diri sendiri dan untuk semuanya, sebuah Pesan Dari Surga (eh, ini judul film ding….).

Perjalanan ke puncak Merbabu kemarin memang belum matang, kita nyasar selama tiga jam muter-muter mencari jalur pendakian via Selo yang mana nyasar selama tiga jam bukanlah suatu rencana dalam ekspedisi ini. (sengaja pake ekspedisi biar keren). Dan itu belum disusul sama drama-drama lain sepanjang perjalanan yang tak perlu diceritakan secara detail. Tapi tak apa, drama itu tidaklah penting, karena yang penting adalah pesan yang saya bawa dari Merbabu itu sendiri.

Merbabu adalah gunung kedua yang sukses dijajagi setelah Sindoro. Selama jeda itu pula, saya beberapa kali ke Bukit Prau di Dieng. Tapi selama beberapa kali wisata alam, baru di Merbabu lah ada rasa aneh yang memasuki pikiran ini. Sempet menduga kalo saya kesambet Jin Merbabu tapi langsung saya tepis dengan segera karena yang ada malahan Jin Merbabu yang kesambet ama saya. (Kemudian terdengar tawa ala dukun santet).

Lanjut Njoot !

Iklan

Begal

Kalo ada yang uring-uringan dan ngedumel nggak genah akibat ketilang sama Polantas trus curhat tilangnya kena berapa ratus ribu, saya sih masih mau dengerin. Tapi kalo curhatnya nggak ada habisnya dan terus ngeluh seolah menjadi mahluk paling malang di dunia ini akibat ketilang saat dompet pas-pasan, lama-lama saya juga pengen nyolot,”Masih untung ketilang ama Polisi, cuma kena berapa ratus ribu. Coba ketilang ama begal, nyawa juga bisa ketilang !”

Oke, marahnya udahan.

Sebagai manusia yang terlalu biasa, saya juga pernah ketilang, tapi itu dulu, dulu banget pas naik motor tapi mata meleng entah kemana, tau-tau udah dipinggirin ama Pak Polisi. Nggak tahunya masuk zona roda empat. Sempet debat sih ama Pak Polisi, masa minta duit tilang setengah juta ? Gila, emang uang saya ngalir dari kran dapur apa ? Padahal kesalahan saya cuma kecil, keblablasan masuk jalan khusus roda empat. Akhirnya saya minta ditilang aja SIMnya, eh malah Pak Polisi turunin harga damai, cuma 50 ribu (diskon 90%). Sebagai rakyat awam yang tidak menghendaki adanya keribetan, ya deal lah, duit tilang segitu. Tapi itu dulu, untungnya sekarang udah ada saber pungli, tilang model gitu harusnya udah nggak ada.

Lalu, gimana ceritanya kog saya bisa ketilang sama begal dan masih hidup ampe sekarang ? Lanjut !

Bunda Theresa

Rasanya sakit ketika mendapati sebuah cuitan yang melayang di timeline. Nyesek rasanya. Buat orang yang tidak tahu Bunda Theresa mungkin ini lelucon yang mengocok perut. Tapi bagi saya, ini memprihatinkan.

Jika saja mereka tahu betapa berat perjuangan Bunda Theresa dalam misi kemanusiannya, kiprahnya dalam krisis medis di India, kelaparan di Ethiopia atau mungkin bencana Chernobyl. Mungkin mereka tak berani mencuit tweet yang seperti itu.

Saya adalah seorang muslim sedangkan Bunda Theresa adalah biarawati. Tapi dimata saya, Bunda Theresa adalah seorang aktivis kemanusiaan yang tak perlu lagi diragukan tindakannya. Beliau adalah contoh yang nyata buat saya, bagaimana dengan niat yang tulus mampu menyelamatkan jutaan manusia.

Saya sama sekali tidak memandang agama Bunda Theresa. Yang saya pandang adalah, beliau orang yang baik, beliau adalah salah satu contoh pejuang yang saya idolakan.

Tapi ketika ada orang yang mungkin hanya tahu Bunda Theresa lewat nama lalu ngomong seenaknya, “Sia-sia perjuangan Bunda Theresa, toh akhirnya masuk neraka. Dibakar bersama orang kafir lainnya “

Rasanya sakit mendengarnya.

Siapa sih yang menentukan manusia masuk neraka ? Allah SWT, bukan manusia. Jadi, janganlah sok me-nerakan orang, karena belum tentu mereka masuk neraka.

Selama ini mungkin kita tahu bahwa Bunda Theresa orang kafir, yang dalam Islam orang kafir ditempatkan di neraka.

Tapi, siapa yang tahu dengan rahasia Allah SWT ? Mungkin saja, sebelum meninggal Bunda Theresa mendapatkan hidayah, mengakui ke-Esaan Allah SWT dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Siapa tahu ? Kita manusia adalah mahluk terpedaya, kita hanya mampu melihat yang nampak, sedangkan misteri adalah milik-Nya.

Jadi, janganlah kita sok me-nerakaan orang lain, karena itu sama sekali bukan ranah kita. Itu urusan Tuhan. Karena bisa jadi, kita yang menjadi penghuni neraka karena kita adalah orang yang acuh, tidak peduli dan tak mau tahu tentang kelaparan, anak yatim yang terlantar, korban konflik atau korban bencana di sekitar kita.