LCDP X – Naga Hitam di Langit Biru Rosemelia

naga hitam di langit biru rosemelia

Cerita ini diikutsertakan ke lomba LCDP X dalam rangka ulang tahun LCDP ke-10. Baca cerita lainnya di eliteralcdp.wordpress.com

Siang itu semua petinggi kerajaan berkumpul di aula kerajaan membahas kegentingan yang terjadi. William Smith yang merupakan Sang Raja juga turut hadir meski terlihat memaksa karena kesehatannya semakin hari semakin memburuk. Ia hanya mengawasi jalannya rapat karena wewenang raja telah ia limpahkan pada putri tunggalnya meski ia belum menobatkannya menjadi ratu. Sang Raja menunggu putrinya berumur dua puluh tahun untuk mewarisi tahta kerajaannya. Sebelum umur itu terpenuhi, segala urusan masih tanggung jawab sang raja meski untuk beberapa kasus ia serahkan pada putrinya, termasuk kasus yang sekarang.

Rapat dimulai  dengan pembacaan situasi oleh Sang Putri sendiri,”Seperti yang kita ketahui, Kerajaan Modor telah melakukan ekspansi dan menyatakan perang terhadap seluruh kerajaan. Kita pun telah tahu bagaimana nasib Kerajaan Fungi yang baru saja ditaklukan dengan keganasan serta kerajaan kecil lain yang menjadi korban pangeran yang sangat ambisius dan kejam, Alex William. Dan sebagaimana yang kita ketahui, Kerajaan kita Rosemelia adalah kerajaan terakhir di wilayah Green Forest yang masih bertahan. Untuk itu aku mengumpulkan kalian untuk menghadapi situasi yang terburuk.”

“Kita tak mungkin berperang,”Cetus salah satu mentri,”Kita tak punya aliansi dan pasukan kita sendiri tak mencukupi. Menurut informasi yang ku terima, mereka setidaknya punya dua puluh ribu pasukan lebih dengan senjata yang lengkap. Sedangkan pasukan kita hanya sekitar seribu lebih dan sebagian mereka sudah beralih profesi menjadi petani.”

“Jadi menurutmu kita menyerah, begitu ?”Tandas Sang Putri tajam dan terlihat geram.

“Akui saja kita bukan Spartan, tak mungkin pasukan dua ribu kita mengalahkan tiga puluh ribu pasukan mereka.”Celetuk yang lainnya.

Sang Putri termenung, memang secara logika dan angka mereka sudah menang di atas papan.

“Tapi aku tak mengusulkan untuk menyerah,”Henry menyela, selaku Ksatria Kerajaan Rosemelia sekaligus pengawal dan orang kepercayaan Sang Putri,”Aku sudah melihat apa yang mereka lakukan pada kerajaan yang menyerah pada kekuasaannya. Perampasan, perbudakan, selain itu mereka menarik semua pemuda untuk dijadikan pasukan barunya. Tidak ada apa-apa yang tersisa selain orang tua yang rapuh dan lemah.”

“Jadi kamu mengusulkan untuk berperang ?”Suara lantang Menteri Pertahanan meluap penuh emosi.”Seandainya kita berperang, gerbang kota kita tak mampu menahannya dalam sehari.”

“Itu lebih baik, mati dan kalah dalam berjuang daripada hidup menyerah dan menjadi budak jajahan.”

Ucapan Henry bagai tamparan pedas yang mengenai pipinya. Namun sebelum sempat ia membalas, Putri Amalia menengahi,”Hentikan kelakuan kalian ! Kita bukan anak kecil. Berperang atau tidak kita akan cari solusi terbaiknya.”

Saat suasana rapat sedang memanas, seorang pasukan istana datang dan menyela,”Maaf baginda Raja, ada utusan dari Kerajaan Modor meminta ijin untuk menghadap.”

Seisi ruangan langsung pandang dengan keputus asaan. Dalam benak mereka, Kerajaan Modor akan mulai invasi ke kerajannya beberapa bulan lagi, setidaknya memulihkan tentaranya yang baru saja berperang melawan Kerajaan Fungi. Namun hanya dalam beberapa hari salah satu utusannya sudah sampai disini.

Segera setelah laporan itu diterima, Raja yang ditandu pengawalnya bergerak menuju singgasananya ditemani oleh putri dan pada menteri serta para ahli lainnya. Lalu Sang Raja yang sudah berada di singgasananya langsung memerintahkan utusan itu untuk mengutarakan maksudnya.

“Salam hormat, salam dari Yang Mulia Alex Sang Penguasa dan Penakluk Daratan. Dengan ini Yang Mulia ingin menawarkan aliansi dengan Kerajaan Rosemelia. Sebagai bentuk persetujuan dengan ini Kerajaan Modor meminta dalam waktu seminggu untuk segera menyerahkan Putri Amalia, seribu pasukan dan seluruh pemuda yang ada. Sebagai imbalan maka Kerajaan Rosemelia akan mendapatkan dukungan dan perlindungan penuh dari Kerajaan Modor.”

“Kurang ajar !”Henry langsung menyeru secara spontan,”Lancang sekali mereka!”

Bahkan Sang Putri yang berdiri disamping ayahnya sudah siap menghunus pedang dan siap mengeksekusi utusan sebagai bentuk jawaban atas penghinaan, namun Sang Raja mengangkat tangan dan menyuruh semua untuk tetap tenang. “Katakan pada yang mengutusmu, Kerajaan Rosemelia menerima baik itikad itu dan jawabannya akan dikirim dalam waktu seminggu.”

Utusan Kerajaan Modor langsung pergi setelah mendapat jawaban yang disusul dengan kericuhan di istana.

“Mohon maaf Yang Mulia, tapi kita tak mungkin menuruti keinginan Kerajaan Modor. Ini suatu penghinaan besar terhadap Kerajaan Rosemelia.” Mentri Pertahanan langsung angkat bicara.

“Aku tahu,”Jawab Sang Raja,”Tapi kita tidak bisa langsung menolaknya. Segera setelah ini ungsikan semua penduduk dan para pengungsi lewat jalur rahasia. Selain itu siapa pun yang masih bisa mengangkat pedang akan wajib ikut berperang.”

Titah Sang Raja begitu jelas, Kerajaan Rosemelia akan berperang melawan Kerajaan Modor.

“Maaf Ayahanda, apakah Ayahanda sudah memikirkan resikonya ?”Sang Putri menyela.

Sang Raja tersenyum pada pewaris tahtanya,”Ayah tak perlu berpikir, jika ayah harus menyerahkan putrinya kepada manusia barbar itu, lebih baik ayah mati dengan seribu panah yang menancap di jantung ayah.”

Putri Amalia terharu lalu langsung memeluk ayahnya dengan erat. Air matanya mengalir tak ia sadari lalu berandai-andai kalau ibunya masih ada mungkin situasinya akan sedikit berbeda.

“Tapi perang ini sepenuhnya milikmu, lalukan yang terbaik dan selamatkan rakyatmu.”

Sambil melepaskan pelukannya, Putri Amalia mencoba tegas dan menghapus air matanya,”Siap Yang Mulia !”

Rapat kembali dilanjutkan, seluruh petinggi istana dan seluruh ahli yang ada dari ahli obat, ahli medan hingga ahli anti ilmu hitam dikumpulkan dengan segera untuk satu tujuan; memenangkan pertempuran.

Mengumpulkan seluruh ahli istana yang kiranya berguna untuk pertempuran nanti memang mudah, yang tidak mudah adalah membujuk Sang Raja alias ayahnya sendiri untuk ikut mengungsi dan menyelamatkan diri.

“Aku mungkin sekarat Putriku,”Ucap Sang Raja dengan pelan namun jelas,”Namun aku tidak ingin menjadi Raja yang pecundang, aku akan tetap disini menantikan tombak merebut nyawaku. Dengan begitu rakyatku juga tahu bahwa Rajanya tidak pernah meninggalkan rakyat dan kerajaannya.”

Sang Putri hanya bisa pasrah, seberapa pun tekadnya untuk meyakinkan ayahnya tetap tidak bisa. Rasanya tekad dan kepala batunya sudah menyatu dalam diri sang raja hingga tingkat DNA.

Sementara itu Henry yang bertugas merekrut pasukan baru dari para pengungsi Kerajaan Fungi tak bisa berharap banyak. Sebenarnya ada banyak punya potensi untuk ikut ambil bagian dalam peperangan tapi rasa takut menumbangkan mereka semua, kecuali satu; seorang nenek tua.

“Dengar ya Nek, kita akan berperang bukan mau mengasuh cucu.”Henry memperingatkan.

“Hanya karena aku terlihat tua dan keriput bukan berarti aku tidak berguna.”

“Dengan segala hormat Nek, iya nenek kelihatan tua, keriput dan tidak berguna. Kerajaan kami memang butuh pasukan dan bantuan sebanyak mungkin, tapi untuk perang. Bayangkan Nek kita lagi lari menuju musuh dan rematik serta encok nenek kumat ?”

“Aku tak perlu berlari menuju musuh,”Jawab nenek itu sambil tersenyum menyeringai menatap Henry penuh percaya diri. Lalu selanjutnya tubuh Henry terasa ringan, kaku dan terseret secara pelan mendekati nenek tua itu,”Aku tidak akan ikut berperang tapi aku bisa membantu memenangkan perang.”

Nenek itu tersenyum memang sedang Henry terkejut sambil pikirannya tak berhenti menerka apa yang sebenarnya terjadi.

“Berapa yang kau dapat Henry ?”

Suara Putri Amalia yang lembut namun tegas terdengar jelas dari belakang, tak lama kemudian sosok Sang Putri dengan rambut hitam panjangnya yang lurus tanpa terikat, tubuhnya yang semampai dan wajahnya yang elok menjadi pesona sekaligus pembeda antara nenek tua di depannya dengan malaikat penabur cinta.

”Tidak begitu yakin sih, tapi kayanya cuma satu.”Jawab Henry ragu-ragu.

“Jangan bilang nenek tua itu masuk hitungan?”Sahut Putri Amalia tak percaya pada pengawal pribadi sekaligus teman mainnya sejak kecil. Badannya yang atletis nan ramping, senyumnya yang begitu manis dipadu dengan wajahnya yang selalu tampak polos selalu saja berhasil mencuri perhatiannya. Tak salah ia memintanya menjadi pengawal pribadinya, ia selalu menjadi obat penenang yang luar biasa.

Henry tersenyum lugu lalu bicara setengah berbisik pada Sang Putri,” Ini sebenarnya nggak masuk akal tapi nenek ini bukan nenek biasa.”

“Dengar Sang Putri,”Ucap nenek tua itu serius dan tiba-tiba saja seluruh ruangan menjadi senyap dan hawa disekitarnya menjadi dingin seolah bahwa semua energi berfokus pada nenek tua itu,”Aku bisa membantumu.”

Sang Putri tertawa ringan,”Nek, jika memang ada yang bisa dibantu, bantulah diri nenek sendiri, sisakan tenaga untuk berdiri dan berlari karena sebentar lagi tempat penampungan ini akan menjadi tempat pertempuran dimana api dan panah berterbangan sana sini.”

“Aku tahu,”Jawab nenek tua itu santai lalu tanganya diangkat dengan posisi terbuka lalu dalam sekejap sebuah api dengan ukuran saku kepala tangan menyala dengan terangnya. Herny dan Putri Amalia terbelalak tak percaya. “Aku pernah menyarankan ini pada Kerajaan Fungi tapi mereka tak peduli dan begitu yakin dengan kekuatan pasukan mereka. Dan akhirnya sekarang mereka binasa.”

“Bagaimana aku tahu kalau yang kamu katakan itu bukan kebohongan ?”Tanya Putri Amalia mulai percaya meski tidak sepenuhnya. Ia masih menimbang-nimbang kemungkinan tipuan.

“Tanyakan saja pada Molna, dia juga mengetahui kebenarannya.”

“Molna ?”Putri Amalia seperti mengetahui orang yang dimaksud,”Ahli anti sihir kami ?”

Nenek tua itu mengangguk dan berimbas Henry untuk memanggil untuk membuktikan kebenarannya. Dan tak berapa lama Molna sudah ada disisinya.

“Katakan Molna tentang Hutan Batu pada tuan putrimu,”Ucap nenek tua itu dengan nada penuh kemenangan.

Molna sudah sadar siapa yang ada di depannya, teman satu akademi dalam pelajaran sihir lama. Dia sendiri adalah pengguna sihir terlarang dengan usia sebagai taruhan. Harusnya nenek itu usianya masih sama seperti dirinya empat puluh tahunan bukan seperti nenek berusia tujuh puluhan. Molna mengira sudah banyak sihir terlarang yang ia gunakan. Dan tentang Hutan Batu, Molna tak akan memberitahukan itu pada Tuan Putrinya.

“Katakan Molna, apa itu Hutan Batu ?”Putri Amalia mendesak karena Molna terbungkam dan enggan bicara.

“Tak ada apa-apa disana.”

“Sungguh ?”Nenek tua itu merasa tertantang,”Maukah kau bersaksi di hadapan api hijauku ? Dia akan suka sekali membakar orang dengan kebohongan.”

Nenek itu terkekeh dengan api hijau yang sudah menyala di tangannya.

“Katakan Molna ! Apa itu Hutan Batu !”Putria Amalia membentak.

Tak ada pilihan lain, tak masalah sebenarnya memberi tahukan apa itu Hutan Batu. Yang jadi masalah adalah keselamatan Sang Putri jika pergi kesana.

“Hutan Batu adalah tempat Naga Hitam.”

“Naga Hitam ?”Putri Amalia tak percaya,”Bukankah Naga Hitam sudah musnah selama Perang Suci ?”

“Perang Suci adalah perang dimana semua ahli sihir bersatu untuk memusnahkan seluruh sihir hitam. Tapi mereka tak bisa memusnahkan Naga Hitam, yang ini terlalu jauh dari kendali manusia.”

“Jika memang Naga Hitam masih ada itu bukan berarti ancaman bagi seluruh umat manusia ?”Henry menyela.

“Tidak,”Jawab Nenek tua itu cepat,”Tidak lagi, yang jelas jika kau butuh bantuan kekuatan sekarang, hanya tempat itu yang tersisa.”

 Putri Amalia tampak termenung sejenak sebelum bertanya,”Berapa waktu yang dibutuhkan untuk ke Hutan Batu ?”

“Itu terlalu berbahaya Putri, sebaiknya urungkan kembali niatmu !”Henry langsung maju dan melarangnya. Tapi rasanya terlambat untuk melarang orang yang punya kemauan kuat apalagi demi menyelamatkan kerajaannya.

“Iya, aku tahu bahaya makanya aku akan mengajakmu.”

“Hutan Batu ada di puncak Gunung Gersang, butuh waktu seminggu lebih jika berkuda kesana.” Molna menambahkan.

Detik itu juga Sang Putri langsung bergegas untuk bersiap-siap perjalanan jauhnya. Urusan bertahan dan strategi perang sepenuhnya diserahkan pada Menteri Pertahanan.

“Meskipun kita bisa minta bantuan Naga Hitam tapi saat kita kembali mungkin Kerajaan ini sudah rata dengan tanah,”Ucap Henry sebelum benar-benar pergi dari Kerajaan Rosemelia berharap itu dapat mengurung niatan Sang Putri.

“Yap, makanya kita akan lewat jalan pintas.”

Henry langsung melemas, jalan pintas yang dimaksud dan tidak lain adalah melewati lembah kematian dimana  banyak hewan buas berkeliaran serta banyak tumbuh tanaman beracun. Jika beruntung mereka bisa menemukan begal atau perampok jalanan sebagai bonus kesialan.

Henry pernah berharap bahwa suatu hari nanti ia bakalan punya waktu luang berduaan dengan Sang Putri tapi harapannya itu dalam konteks makan malam di luar istana atau sekedar jalan-jalan berdua tapi bukan karena tugas. Tapi harapan itu seakan nggak pernah kesampaian karena sepertinya ia akan mati duluan. Ia menyesalkan kenapa orang yang membuatnya jatuh cinta itu seorang putri yang jelas susah untuk dimiliki.

Benar saja apa yang Henry bayangkan, baru saja masuk di bibir Lembah Kematian, kawanan bandit hutan sudah menghadang meminta harta dan terpesona oleh kecantikan Putri Amalia. Tanpa perlu basa basi Henry langsung melompat dari kudanya, menghunus pedang dan mengalahkan enam bandit gadungan dalam sekejap mata. Dibandingan enam bandit hutan itu, Sang Putri jauh lebih tangguh dengan gerakan ayunan pedang yang cepat dan mematikan. Tidak seperti mereka yang menyerang dan melayangkan pedang asal-asalan kaya orang kesurupan.

Lalu setelah itu menghadapi kawanan serigala  yang air liurnya menetes kemana-mana. Beruntung saja Putri Amalia mau ikut turun tangan sehingga kawanan serigala itu bukanlah ancaman.

Henry sedikit senang ketika akhirnya bisa keluar dari Lembah Kematian, namun kesenangan itu hanya berlangsung beberapa detik lamanya. Keluar dari Lembah Kematian mereka sampai di bukit dimana mereka bisa melihat dengan jelas Kerajaan Fungi. Namun yang mereka lihat hanya bekasnya saja, tidak ada yang tersisa dari kejayaan Kerajaan Fungi selain puing-puing bangunan yang masih sedikit bertahan karena peperangan. Bahkan tak ada bangunan yang utuh, semua habis terbakar seolah musuh mereka adalah Raja Nero dari Romawi yang doyan banget mainan api. Mayat-mayat prajurit berserakan dengan berbagai macam kondisi dan benteng kerajaan yang kokoh entah bagaimana bisa hancur dan tertembus, entah senjata jenis apa yang dipakai Kerajaan Modor yang jelas jika Kerajaan Fungi bisa hancur rata seperti ini maka Kerajaan Rosemelia tidak ada apa-apanya, kerajaan mereka bisa hancur dalam hitungan jam bukan hari lagi.

“Kita harus bergegas !”Ucap Sang Putri sambil terus memacu kudanya terus menuju Gunung Gersang, ucapan serta nadanya menyiratkan banyak kekhawatiran. Henry mengangga, tenaganya hampir tak tersisa setelah menghajar gerombolan serigala tadi yang seolah tidak ada habisnya. Harusnya sekarang jatahnya untuk istirahat sejenak dan mencari makan untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan. Ditambah lagi malam sudah hampir tiba.

Gunung Gersang sama sekali bukanlah jenis gunung yang mudah didaki untuk mencapai puncak dimana kuda bisa terus melaju sampai atasnya. Nyatanya kuda mereka hanya bisa mengantarkan sampai lereng gunung, selebihnya pekerjaan berat menanti. Henry menarik pedangnya dan menebas rumput serta tanaman liar untuk menjadi jalannya. Sedang Putri Amalia dengan obornya menjadi penerang dari belakang.

“Apakah kamu merasakan sesuatu ?”Tanya Henry sambil terus mengayunkan pedangnya menebas tanaman berduri.

“Apa ?”

“Entah itu cuma instingku apa memang kita tidak sendiri mendaki gunung gini.”

“Yap, ada sesuatu yang bergerak sangat cepat mengawasi kita dari jauh.”

Henry mengangguk setuju sambil meningkatkan kewaspadaannya, matanya bergerak dengan lincah ke kanan dan kekiri sebagai antisipasi serangan mendadak meski ia sendiri merasa tak yakin bisa menghadapi serangan kejutan sementara mereka berjalan dengan penerangan yang sangat mudah menjadi mangsa para pemanah. Pun jika yang menyerang adalah tipe penyerang berpedang, kemungkin Henry juga gagal menangkis dengan semakin tipisnya jarak pandang.

Tapi ketakutan terkadang hanyalah sebatas kekhawatiran yang berlebihan, nyatanya mereka tidak diserang oleh apapun sepanjang perjalanan hingga keluar dan disambut oleh hutan mati dimana hanya ada pohon dan rumput kering sejauh mata memandang ke depan.

“Menurut deskripsinya kita sudah sampai ke Hutan Batu,”Jelas Henry sambil menahan nafas lelahnya, tangannya hampir tak bisa lagi memegang pedang yang sejak beberapa jam lalu tak berhenti menebas hutan liar demi memberi jalan yang aman dan nyaman buat Sang Putri.

Angin bertiup sedikit kencang, dingin begitu spontan sehingga obor yang dipegang Sang Putri padam. Namun Hutan Batu yang ada di hadapan mereka tampak begitu jelas dan terang bahkan tanpa penerangan di gelapnya malam. Terlebih lagi mereka menemukan anak tangga yang begitu rapi membelah Hutan Batu.

Namun begitu kaki Sang Putri menginjak anak tangga yang pertama, sesosok mahluk dalam bayangan hitam muncul begitu cepat dan tiba-tiba di hadapannya, bahkan jika mahluk itu langsung menebas lehernya ia tak bisa apa-apa karena ia begitu kaget dan terlambat menarik pedang dari sarungnya.

Henry sama sekali tidak percaya, mengapa disaat tenaganya dikuras habis baru muncul musuh yang ngajak ribut, benar-benar nggak adil.

“Berhenti disitu dan jangan melangkah lagi !”

Suara kasar dan keras terdengar dari sosok bayangan itu.

“Bagaimana jika aku menolak ?”Sang Putri menjawab setengah menantang, pedang sudah dipegang dengan kedua tangan dengan posisi siap menyerang.

Tak ada kata balasan sesudahnya dari mahluk itu selain bayangan bergerak begitu cepat maju menyerang Sang Putri hingga suara pedang beradu terdengar begitu jelas dalam keheningan malam.

Henry pun tak mau tinggal diam, dengan sisa tenaga yang ada ia membantu Sang Putri mengalahkan mahluk hitam itu meski gerakannya yang melambat hanya menjadi beban bagi Sang Putri.

“Apakah kamu merasa ada yang aneh ?”Tanya Henry terengah-engah kala mundur menjaga jarak aman dari serangan. “Aku melihat dia bertarung dengan tangan kosong tapi pedang kita selalu berdenting ketika beradu dengannya.”

“Itu yang aku pikirkan, tangannya seperti terbuat dari besi.”

Lalu Sang Putri memberikan kode pada Henry untuk menggunakan formasi serangan kombo milik mereka dan Henry mengangguk mengerti lalu setuju. Setelah mengambil nafas yang cukup mereka berdua berlari sambil berteriak penuh semangat lalu melompat tinggi ke udara dengan pedang yang diayunkan sekuat tenaga.

Clang !

Terdengar bunyi yang sangat keras. Baik Sang Putri maupun Henry sangat tidak percaya, pedang yang mereka ayunkan sekuat tenaga nyatanya hanya ditangkap dengan tangan kosong oleh mahluk di depannya. Jika itu manusia normal, kedua tanganya sudah terbelah jadi dua.

Di tengah kepanikan itu mereka hanya mendengar tawa ejekan setelah melepaskan pegangan serangan pedang yang mereka berdua lancarkan.

“Hahahaha…kalian berdua punya tekad juang dan semangat yang tinggi. Aku tahu apa yang kalian cari, tinggal ikuti jalan ini. Tapi aku hanya mengijinkan satu orang yang masuk.”

Setelah berpesan seperti itu mahluk dalam bayangan hitam langsung mehilang dengan begitu cepat seperti kedatangannya yang tak terduga.

“Ini mungkin jebakan, biar aku yang maju Tuan Putri,”Henry menawarkan diri namun pedang Sang Putri langsung terpalang di depan dan mencegahnya.

“Ini urusanku biar kamu yang tunggu disini. Jika hingga pagi aku tidak kembali kau boleh menyusul.”

Meski agak berat tapi akhirnya Henry setuju dan terpaksa menunggu, toh dengan begitu ia punya waktu buat mengumpulkan kembali tenaganya untuk perjalanan pulang.

Malam masih terlalu gelap dan Henry berniat membuat api unggun ketika ia baru saja selesai mengumpulkan kayu bakar lalu Putri Amalia sudah terlihat menuruni anak tangga.

Meski dalam samar Henry bisa melihat perubahan Sang Putri yang tak berhenti memandangi kedua tangannya.

“Putri, rambutmu berubah putih.”

Putri Amalia tersenyum,”Iya, ini konsekuensinya, mari kita pulang !”

“Tak perlu kah kita menunggu sedikit terang ? Sebentar lagi fajar tiba.”

“Tak perlu, ada sesuatu yang ingin ku coba.”

Henry mengangguk meski ia tak paham betul.

“Naiklah ke punggungku !”Perintah Sang Putri yang membuat bengong Henry.

“Hah ?”

“Naiklah ke punggungku ! Aku gendong !”

Dalam keraguan,  Henry menuruti saja perintah Sang Putri yang tak ia mengerti.

“Aku cukup berat,”Ucap Henry ketika Sang Putri mulai mengangkatnya.

“Kamu begitu ringan seperti kapas,”Balasnya setengah tertawa. Lalu matanya tajam menatap kebawah sebelum sejurus kemudian berlari dan melompat dalam kegelapan malam menuruni gunung layaknya bola salju yang terjun bebas dan semakin cepat.

Henry hampir saja teriak sekencang mungkin jika saja ia tidak malu kepada Sang Putri, tapi teriakannya ia tahan karena takut suara mirip dengan banci pasar yang teriak ketakutan melihat kecoa.

Henry juga teringat dengan mimpi anehnya beberapa waktu lalu dimana ia bermimpi tentang seorang vampir bernama Edward Cullen yang menggendong manusia bernama Isabella Swan sambil lari begitu cepat naik gunung. Sekarang adegannya begitu mirip, bedanya hanya terbalik situasi dan kondisinya.

Rasanya hanya perlu beberapa menit untuk menuruni gunung yang terjal dan berbatu itu untuk sampai di kaki bukit dimana mereka mengikat kuda-kudanya.

“Ayo cepat, dengan kecepat seperti ini kita bisa kembali ke kerajaan dalam hitungan jam.”Ucap Henry penuh semengat, digendong sama Sang Putri lebih memacu adrenalin daripada berkuda sekalipun. Namun Sang Putri malah menurunkannya dari gendongan. Sang Putri tak terlihat lelah mesti telah menggendongnya turun. Tak ada nafas yang terengah-engah atau keringat yang muncul dari tubuhnya.

 “Kamu lihat ini ?”Sang Putri menunjukan sebuah ikatan pita merah di pergelangan tangannya. Dalam samarnya gelap, ikatan itu nampak sedikit bercahaya.

“Itu pita merah yang lucu,”Henry berkomentar asal-asalan.

“Ini adalah ikatan perjanjian antara aku dan Naga Hitam, semakin aku banyak menggunakan kekuatannya maka pita ini akan semakin pendek dan akhirnya ikatannya akan lepas.”

“Bagaimana jika ikatannya lepas ?”

“Jika ikatannya lepas maka aku masih bisa menggunakan kekuatan Naga Hitam, hanya saja itu akan memangsa jiwa dan ragaku.”

Henry terdiam sesaat setelah memahami situasinya,”Jadi naga itu tak akan datang nang membantu kita ?”

Putri menggeleng,”Tidak, dia hanya meminjami kekuatannya sebatas ikatan ini. Tak lebih.”

Henry hanya bisa tersenyum getir, bahkan dengan kekuatan Naga Hitam yang ada pada ikatan Sang Putri ia tak mungkin mememangkan pertempuran. Dengan kekuatan Sang Putri yang sekarang ini mungkin setara dengan 200 pasukan atau lebih tapi jumlah mereka jauh lebih banyak daripada itu.

“Sekarang akan ku bagi kekuatan ini sedikit denganmu,”Ucap Sang Putri dan Henry bisa melihat ikatan di tangan Sang Putri memudar sedikit kemudian rasa aneh menghampiri Henry. Rasa lelah, penat dan lesu yang ada pada dirinya perlahan sirna berganti rasa segar bugar seolah habis makan sampai kenyang dan tidur semalaman, tubuh menjadi terasa ringan dan Henry bisa melihat bahwa ada aura hitam diantara kaki-kaki kuda itu.

“Jadi seperti ini rasanya kekuatan Naga Hitam ?”Henry berkata lirih tak percaya.”Kau juga membaginya untuk kuda kita ?”

“Ya, kita akan pulang cepat. Aku bisa merasakan hentakan kaki pasukan Kerajaan Modor tengah melaju ke kerajaan kita.”

Fajar belum sepenuhnya tampak namun perjalanan antara Gunung Gersang dan Kerajaan Rosemelia sangatlah jauh. Dan sungguh kekuatan yang luar biasa dalam jarak sejuah itu Sang Putri bisa merasakan getaran kehadirannya.

Dan kekuatan yang mengerikan itu sekarang pun berada pada tunggangannya. Sungguh luar biasa kuda-kuda itu menjadi bisa berlari dengan sungguh cepat, bahkan lima kali lebih cepat dari biasanya. Kuda macam apa yang bisa melompat setinggi tiga meter dengan jarak lompatan mencapai belasan meter. Jika Henry tak menaikinya sendiri ia juga tak akan percaya dengan fenomena  yang terjadi.

Butuh waktu sekitar empat hari untuk kembali ke kerajaan dengan perjalanan normal namun dengan perjalanan kilat semacam ini, perjalanan hanya akan memakan waktu beberapa jam.

Tak terasa matahari sudah naik sekitar satu tombak dan mereka terus melaju dengan kecepatan yang sama tanpa ada tanda-tanda kudanya mengalami kelelahan atau pun mengalami penurunan kecepatan. Jika tidak ada halangan, mereka akan sampai sebentar lagi. Tentu saja jika dalam perjalanan normal itu masih butuh waktu sekitar satu hari lagi.

Ketika sampai di kerajaannya, perang tengah berkecamuk dengan pasukan dari Kerajaan Rosemelia yang terpojok menghadapi banyaknya pasukan dari Kerajaan Modor. Baik Henry maupun Putri Amalia segera turun dari kuda kesayangan mereka lalu bergabung maju dan menjadi ujung tombak pasukan mereka.

Satu persatu pasukan dari Kerajaan Modor berhasil dilumpuhkan dan dipukul mundur.

“Pasukan Rosemelia ! Maju !”Suara keras dan lantang Putri Amalia menggema diantara langit dan bumi Kerajaan Rosemelia. Tangannya menujuk ke langit biru yang langsung berselimut awan hitam. Ikatan ditanganya semakin kecil dan memudar, ia membagi kekuatannya dengan seluruh pasukan kerajaannya.

Pasukan yang terluka parah bahkan yang hanya bisa berbaring tiba-tiba punya kekuatan dahsyat untuk berdiri dan memegang pedang lagi tanpa rasa sakit meski tubuhnya penuh dengan luka dan panah masih tertancap di tubuhnya.

“Majuuuuuu…!”Komando dari Putri Amalia layaknya genderang penyemangat yang membuat pasukannya kembali bergairah maju ke medan perang.

Pangeran Alex dari Kerajaan Modor yang memimpin sendiri pasukan itu terkejut bukan kepalang ketika pasukan garis depannya dipukul mundur dalam sesaat dan langsung rata begitu mudahnya seolah mereka hanya menerobos ladang jagung.

Pasukan Kerajaan Rosemelia terus bergerak maju hingga pasukan pertama yang dikirim maju Kerajaan Modor habis tak tersisa. Kini mereka saling berhadapan satu sama lain, tatapan penuh permusuhan jelas tersorot dari mata Putri Amalia kepada Pangeran Alex. Jarak  mereka hanya terpaut beberapa meter dan Pangeran Alex merasa geram ketika Putri Amalia mencabut pedang yang menancap di dada pasukannya dengan penuh kepuasan.

Tanpa bergeming Pangeran Alex maju menunggagi kuda hitam perkasanya dan menyambangi Putri Amalia.

“Kamu begitu cantik dan begitu hebat,”Puji Pangeran Alex pada Putri Amalia,”Masih belum  terlambat untuk menyudahi perang ini. Terimalah lamaranku, jadilah permaisuriku dan akan ku persembahkan seluruh daratan ini untukmu.”

Sang Putri tersenyum sinis lalu meludah di hadapan Pangeran Alex,”Jangan bermimpi, aku tak akan serahkan daratan Rosemelia kepadamu meskipun seujung jariku.”

Pangeran Alex tertawa lepas,”Kau begitu sombong Tuan Putri, hanya karena kau bisa mengalahkan seribu pasukanku, bukan berarti kau bisa mengalahkan sembilan belas ribu lainnya.”

“Kau yang begitu sombong Pangeran, kau pikir jumlahmu bisa membantu memenangkan pertempuran kali ini ? Kau tidak hanya bodoh tapi juga begitu naif.”

Pangeran Alex nampak begitu kecewa, air mukanya berubah masam, belum pernah ia mendapatkan penghinaan semacam ini. ”Kau liat saja nanti.”Ia lalu menarik diri ke belakang dan memacu kudanya kencang.

Beberapa detik selanjutnya benda-benda besar yang sejak tadi terdiam mulai bergerak dan mengeluarkan bunyi saling berdecit. Bersamaan dengan komando serang sesuai arahan Pangeran Alex, benda-benda besar itu melontarkan bola-bola api besar yang terbang di langit lalu menyasar pasukan Kerajaan Rosemelia layaknya hujan meteor.

Dalam sekejap saja pasukan Kerajaan Rosemelia langsung kocar-kacir, berlari kesana kemari dengan tubuh yang terbakar tertabrak bola api yang ukurannya empat kali lebih besar dan lebih berat dari ukuran tubuh manusia dewasa normal.

Putri Amalia pernah melihat bola semacam itu di bekas pertempuran Kerajaan Fungi, ternyata bola-bola itulah yang meluluh lantakan benteng kokoh dan menghancurkan serta membakar seluruh bangungan yang ada. Bola – bola itulah ancaman sesungguhnya.

Henry bisa dengan jelas melihat keputusasaan dari wajah orang terkasihnya Putri Amalia, hatinya pun ikut hancur tapi ia juga tak bisa apa-apa dan kekuatan pinjaman Naga Hitam pun tak banyak membantu. Tak ada yang bisa menghentikan bola-bola api itu.

Putri Amalia mengacungkan pedangnya ke langit, ia akan menggunakan sisa ikatan terakhir dan membaginya kepada seluruh pasukannya. Namun sebelum itu terjadi Henry menangkap tangan dan menghentikannya.

“Hentikan Putri, hentikan ! Kita tidak bisa mememangkan pertempuran ini. Menyerahlah dan jangan korban dirimu ! Aku tak mau kehilanganmu.”

“Tidak ada pencapaian tanpa pengorbanan Henry dan inilah yang seharusnya dilakukan oleh Sang Putri.”

Pedang itu ditarik dan dihunuskan ke langit,”Pasukan Rosemelia, bangkitlah dan maju bersamaku !”

Lalu langit bertambah hitam pekat memayungi mereka layaknya malam, ikatan dalam tangan Sang Putri langsung sirna dengan seketika. Api yang membakar para pasukan langsung hilang terserap ke dalam tubuh mereka masing-masing. Rumput hijau yang menjadi tempat pijakannya langsung mengering seolah kemarau panjang melanda tempat itu selama puluhan taun. Ini seperti pemandangan yang sama di Hutan Batu yang sama gersangnya. Rupanya memang benar, kekuatan Naga Hitam adalah menyerap inti kehidupan, bukan cuma api tapi juga tumbuhan disekitar diserap tanpa sisa. Jika kekuatan semacam ini jatuh ditangan Alex, entah apa jadinya kerajaan ini.

Yang paling terlihat perubahannya tentu saja Sang Putri itu sendiri. Pedang yang dihunus ke langit berubah menjadi merah seperti pedang yang sedang ditempa dipanaskan diatas bara api. Kulit disekujur tubuhnya muncul sisik berwarna hitam seperti sisik ikan. Sekarang bukan hanya rambutnya yang memutih tapi alis diwajahnya pun ikutan memutih dan berubah bentuk layaknya dua tanduk kecil di dahinya.

Henry sendiri merasakan betapa dahsyatnya hempasan kekuatan itu, ia merasa bahwa kekuatannya meningkat beberapa kali lipat dari sebelumnya.

Putri Amalia sendiri tak begitu mengerti apakah ini berkah atau kutukan. Semua indranya mendadak begitu sensitif, mata telinga dan semua indranya sangat peka. Matanya mampu dengan jelas melihat semua titik lemah dari semua mahluk yang dilihatnya. Ia bisa merasakan aliran kehidupan mengikat setiap mahluk. Seakan semuanya itu adalah penghlihatan dari Malaikat Kematian dimana dengan mudahnya ia melancarkan sebuah serangan pada satu titik yang bisa mengantarkan pada kematian. Telinga yang berubah meruncing pun tak kalah pekanya. Ia bisa mendengar seluruh suara dari daratan ini, dari langkah belalang disekitar kakinya hingga suara nafas sekarat pasukannya yang berada jauh di belakang.

Amarah serta kebencian memuncak di wujud setengah naga dan setengah manusia itu lalu genderang perang kembali dikobarkan. “Maju kalian semua pasukan Rosemelia !”

Disambut dengan gemuruh riak penuh semangat, Pasukan Kerajaan Rosemelia kembali bangkit dan melaju dengan kecepatan serta kekuatan yang berada di luar nalar manusia.

Seluruh pasukan Kerajaan Modor langsung habis tak tersisa. Putri Amalia yang melaju paling depan layaknya seorang ninja. Bergerak seperti bayangan dengan kilatan merah pedangnya lalu menebas siapa saja yang menghalanginya.

Pasukannya pun tak kalah gilanya, bahkan mesin pelontar bola api yang terbuat dari kayu pilihan langsung hancur hanya dengan sekali hantam dengan gada besi.

Tak butuh waktu yang lama untuk menghabisi sisa sembilan belas ribu pasukan Kerajaan Modor. Karena dalam satu kali tebasan pedang, Putri Amalia yang sudah berubah menjadi setengah naga bisa membunuh dan melukai sepuluh orang. Jumlah baginya bukanlah masalah.

Pasukan Modor kewalahan, mereka seolah sedang berperang melawan kawanan zombie yang tak bisa mati dan abadi. Tak ada luka dan senjata yang bisa menghentikannya.

Hingga darah membanjiri pedang kesayangannya, Putri Amalia berhasil juga mencapai Pangeran Alex. Pedangnya yang memerah membara dan bau daging gosong kini tepat berada di sisi leher Sang Pangeran.

Putri Amalia bisa merasakan degupan jantung dan aliran darah yang begitu kencang dari tubuh Pangeran Alex, bahkan ia bisa merasakan aliran keringat dingin yang mengucur dari seluruh tubuhnya. Ketakukan Pangeran Alex begitu gila dan mencapai puncaknya sebagaimana ketakutan setiap orang dalam menghadapi kematian.

“Cepat bunuhlah aku !”Pinta Pangeran Alex dengan tubuh gemetar dan putus asa.

“Membunuhmu ? Itu terlalu baik, kau tidak merasakan bagaimana rasanya kerajaan yang kau hancurkan, rakyat yang kau bakar dengan kejam dan nyawa yang kau ambil dengan senang. Kau tak akan merasakan itu.”

 “Aku tak akan membunuhmu,” Ucap Putri Amalia tenang lalu menarik pedang yang mengarah leher Sang Pangeran lalu menancapkannya ke tanah. “Tapi aku akan mengambil kedua tanganmu.”

Pangeran Alex berteriak sejadi-jadinya ketika manusia setengah naga itu memegang kedua tangan dan menarik kehidupan sehingga tangannya kering kerontang.

“Pulanglah ! Kembalilah ke Kerajaan Modor sebelum aku berubah pikiran !”Tegas Sang Putri sambil mengacungkan pedangnya.

Lalu para pengawal pribadinya menyeret pangeran itu kebelakang dan mundur bersama sisa prajuritnya yang kurang lebih sekitar dua ribu pasukan.

Sore telah menjelang, perang telah dimenangkan dan suara gegap gempita terdengar di seluruh Kerajaan Rosemelia. Semua pulang dengan perasaan senang dan prajurit yang tumbang dimakamkan dengan layak.

Pada malamnya, Sang Putri meminta Henry untuk menemuinya di balkon istana.

“Aku telah menyembuhkan penyakit ayahku,”Ucap Sang Putri dengan datar,”Tapi itu hanya untuk sementara waktu. Kelak ketika kekuatan Naga Hitam tak mampu menahannya, semua akumulasi rasa sakit yang hilang akan kembali. Dan saat itu tiba, ku percayakan kerajaan ini padamu.”

“Ketika saat itu tiba, aku akan berada di sisimu.”

Sang Putri menggeleng,”Takdirku bukan disini.”

“Kenapa ? Ini rumahmu, kerajaanmu dan semua rakyat ini kelak menjadi tanggung jawabmu ?”

“Kelak semua ini akan menjadi tanggung jawabmu.” Balas Sang Putri cepat.

Henry terus menggeleng, memohon sesuatu tidak terjadi seperti dugaannya,”Jangan pergi, aku tak bisa menjalani ini sendirian.”

“Kau tak sendirian, aku akan sesekali datang. Aku tak bisa berada disini, mendengar semua tangis, tawa dan semua suara di kerajaan ini dalam satu waktu. Aku akan kembali setelah aku terbiasa dengan kebisingan ini.”

Itulah kalimat terakhir sebelum Putri Amalia pergi, melompat dari balkon istana dengan begitu tinggi lalu mendarat di punggung Naga Hitam raksasa yang terbang di atasnya.

Sejak saat itu, sesekali Naga Hitam kecil terbang di atas di langit biru Kerajaan Rosemelia disambut tepuk dan riuh warga dan menjadi cerita legenda yang turun temurun dari masa ke masa.

TAMAT

Satu tanggapan untuk “LCDP X – Naga Hitam di Langit Biru Rosemelia

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s