In Memory of Irrfan Khan

Beberapa hari lalu ada berita mengejutkan, salah satu aktor Bollywood Irfan Khan meninggal dunia ditengah-tengah Pandemi Corona. Buat sebagian orang, Irfan Khan mungkin aktor yang biasa-biasa saja, tapi bagi gue dia adalah salah satu sosok idaman.

285400-1696428-updates-21e7da084ae0da1fdefec29f8311cbaa_600x400

Gue nggak tahu dengan rekam jejak secara detail bagaimana dia masuk dalam industri film Hollywood dan nongol dalam beberapa film kesukaan gue. Mungkin kesukaan gue bukan karena filmnya saja tapi karena dia masuk sebagai salah satu pemeran penting di dalamnya. Bayangkan saja seorang India menjadi salah satu pemeran penting dalam film Amerika. Ini adalah hal yang langka. Buat gue ini seperti sebuah harapan bahwa siapa pun bisa masuk ke dalam dunia perfilman Amerika. Dan Irrfan Khan adalah salah satu contohnya.

Sebenarnya Indonesia pun juga hampir pernah punya tokoh yang melegenda yang masuk dalam scene film bergengsi sekelas Marvel. Tapi entah kenapa malah nggak jadi. Sayang banget, padahal banyak banget yang antusias termasuk gue.

Jika ada yang nampol dari seorang Irrfan Khan, tentu saja itu karena The Lunchbox.

jQ2yPJc

Satu-satunya film dari Irrfan Khan yang paling gue demen setelah Life of Pi dan berharap banget ada kelanjutannya. Selama ini belum ada film yang begitu nampol dan mengena sekelas The Lunchbox. Sebuah film slice of life tentang kesalahan dalam mengantar bekal makan siang yang menjadi kisah sederhana namun penuh dengan makna. Nonton ini kaya nonton garapan Joko Anwar yang Janji Joni. Sederhana, cuma nganter kaset bioskop tapi kompleksitasnya luar biasa dengan begitu banyak filosofi dan refleksi di dalamnya. Sungguh film-film jenis ini yang luar biasa.

Film The Lunchbox juga sekaligus sebagai titik refleksi bagi gue bahwa makin kesini gue makin butuh film yang bercerita bukan film mewah tapi ceritanya kalah.

Kalau dulu gue ngejar film, pastilah film-film berjenis fiksi ilmiah yang disuguhi dengan visual effect yang luar biasa dan memukau. Intinya gue nyari film yang rame dari segi pertarungan atau adu teknologinya.

Itu dulu sebelum visual effect menjadi hal yang lumrah yang bahkan film drama aja sekelas Parasite pun make banyak banget visual effect yang bikin gue merasa kecolongan. Padahal gue ngira kalo Parasite itu film biasa yang sama sekali tidak melibatkan visual effect. Tapi ternyata dugaan gue salah besar.

Jika saja dulu gue disajiin film Star Wars yang seri The Rise of Skywalker, gue bakalan bilang wow, film ini keren, canggih, bagaimana ya cara bikinnya ?

Tapi sekarang persepsinya sudah berbeda. Okelah dari segi visual effect film ini jempolan tapi dari segi cerita, film ini sungguh bedebah (sori ini murni pendapat gue, maaf banget buat para Trekkers). Karena gue nggak ngerti sama Star Wars ini itu nyeritain apa, tujuannya apa dan fokusnya ke apa ? Karena yang gue tangkap cuma satu, gagal membangun cerita cinta segitiga dalam sebuah pertempuran perebutan galaxy. Dan buat gue ini fatal banget.

Makanya dengan kepergian Irfan Khan gue merasa seperti kehilangan sosok yang luar biasa, mengingat dalam The Lunchbox akting beliau sungguh luar biasa. Wajahnya yang tanpa ekspresi namun pikirannya meneliti itu sangat pas dengan jatah karakternya yang apatis dan bodo amat.

Selamat tinggal dan selamat jalan Irfan Khan, terima kasih sudah mau berkarya dan menghibur kami semua.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s