Sexy Killer

Penyesalanku terlalu terlambat untuk dimulai. Sebagai salah satu manusia yang selalu bersentuhan dengan internet dan sempat trending tentang Sexy Killer, saya adalah manusia hina yang menonton Sexy Killer paling akhir. Dan malangnya, saya nonton pas bulan puasa.

Ada emosi, ada caci dan banyak kata-kata kotor yang pengen saya lontarkan satu per satu di sepanjang tayangan Sexy Killer ini. Saya belum pernah merasa begitu benci hingga begitu emosi melihat tayangan yang penuh dengan ketidak adilan ini. Emosinya itu melebih emak-emak yang greget nonton reality show bohong-bohongan di tipi.

Entah berapa kali mata ini hampir saja menangis sejadi-jadinya tapi ditahan semoga kuat dan semoga kuat. Dan ajaib, hanya dada yang terasa sesak dan tenggorokan yang tercekat, sisanya mata ini hanya mampu berkaca-kaca. Perih rasanya.

Saat ini pikiran saya pecah, jiwa pun ikut remuk dan raga pun seakan ikut ambruk. Pikiran ini nyasar kemana-kemana termasuk pada sebuah tulisan karya Dewi Lestari (Harta Karun untuk Semua), sebuah tulisan yang sangat dan begitu menginspirasi untuk semakin bersahabat dengan alam. Lalu ada juga sebuah video dari Nas Daily tentang perjalanan sampah di Singapura (The Exciting Journey of Trash!). Yang entah bagaimana ini itu video baru ditonton kemarin dan momennya pas banget dengan saat ini.

Saya tidak bisa berkontribusi banyak dengan semua masalah itu. Tapi setidaknya ada sedikit yang bisa lakukan, mulai semakin berhemat dengan listrik, mengantongi sampah plastik sampai nemu tempatnya hingga berdo’a semoga cepat ada pengganti PLTU seperti di Singapura.

Dan sebagai pungkasan terakhir, saya pengen mengutip tulisan dari Harta Karun untuk Semua.

Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri.

Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.

Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari.

Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s