Mini Reuni

Salah satu teman lama dari SMP hingga SMA yang udah lama hidup di Bandung, tinggal dan menetap di Bandung, kerja dan dapet istri juga orang Bandung, pokoknya dia udah bermetaforfosis dari Banyumas ke Bandung. Dia bilang bahwa ada acara keluarga di kampung halamannnya, meski cuma sehari di rumah tapi dia sempat koar-koar di grup alumni bahwa ia punya waktu luang meski sebentar dan nyuruh teman-temannya buat bertandang ke rumahnya.

Sedikit spoiler tentang orang ini, dia adalah teman duduk waktu SMP dan SMA kalo ada ulangan karena dia adalah tipe orang yang efektif dan efisien. Tak mau buang-buang tenaga dan pikiran buat belajar dan ngadepin ulangan kalo bisa punya teman yang bisa nolongin ngasih tahu jawaban. You know what i mean.

Untitled-1 copy

Acaranya malem, satu per satu teman pada datang meski saya harus menyusul dua teman yang nyasar di kotanya sendiri dan itu sungguh mengingatkanku pada Zoro di serial kartune kesukaan, One Piece.

Beberapa diantaranya sih masih sering papasan di jalan tapi enggak sampai ngobrol lama, palingan cuma saling berbagai suara klakson, udah itu aja.

Namun kepulangan manusia dari Bandung itu sedikit mengubah suasana, dari temu kangen hingga reuni kecil-kecilan. Kita duduk di ruang tamu, saling memandang dan mengamati satu per satu wajah lama yang lama kelamaan mengundang tawa karena sungguh mengejutkan bahwa kehidupan tak bisa dinalar dengan logika yang sederhana.

Melihat wajah-wajah lugu yang hampir nggak pernah punya muka serius tiba-tiba menjadi seorang kepala sekolah, sebuah jabatan yang mentereng lalu ada yang menjadi polisi, perangkat desa, satpam dan yang satunya lagi sedang dalam administrasi untuk staff di pelabuhan. Saya ? Kayaknya itu memang menjadi misteri paling tinggi di mini reuni malam itu. Saya tidak menjabat apa-apa dan tak punya apa-apa. Hidup masih flat aja, belum ada gejolak yang signifikan semacam tiba-tiba didaulat menjadi anggota DPR secara aklmasi lalu keliling dunia menghamburkan duit rakyat. Heheheh….

Perbincangan kita sederhana, mulai dari mengingat kisah lama waktu sekolah, kejahilan demi kejahilan, keusilan dan semua tindakan bodoh waktu itu, semua menjadi tawa yang membahana dan membahenol di ruang tamu milik kawan saya itu. Saya banyak diam, mengomentari satu dua kata jika perlu, selebihnya saya hanya menjadi pendengar setia lalu berangan-angan untuk mengabadikan momen reuni itu nanti dalam blog.

Saya pulang duluan bersama teman lama yang menjadi perangat desa pada pukul sebelas malam karena esoknya saya ada acara.

Malam itu sambil menembus angin malam diatas sepeda motor bebek kepala saya terisi dengan kenangan-kenangan lama yang tiba-tiba menjadi segar kembali. Teringat dengan tas yang pagi-pagi berisi buku absen yang dicari-cari sama Guru, ada juga pulang-pulang membongkar tas dan membawa penghapus papan tulis dan vas bunga. Entah bagaimana cara mereka menyelipkannya dan bagaimana pula saya tidak merasakannya. Mengingat itu semua membuat saya bersyukur bahwa saya bahagia punya teman-teman seperti mereka dan saya bahagia dengan hidup saya.

Udah, itu aja.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s