Musik itu Universal

Saya sih bukan yang fanatik dan tertutup dalam hal selera musik, setidaknya sih sampai saat ini. Karena musik dalam benak saya itu masih universal, sangat umum. Musik ya musik, meski kadang timbul pertanyaan kontroversi versi sendiri.

Dan sebagai orang yang terbuka sih saya nggak sepaham dengan pengkotak-kotakan dengan jenis musik. Contohnya ketika ada cewe yang dengerin lagu rock langsung dibilangin,”Ih, kenapa lagunya rock, itu kan lagu cowo, ganti yang lain dong !” atau ketika kaum cowo dengerin lagu korea,”Ih, cowo masa lagunya korea sih, itu kan girly banget. Campursarian napa…?” dan seabreg pertanyaan dan pernyataan yang bikin musik makin susah dinikmati.

Plis, musik itu nggak ngenal gender atau jenis kelamin dan nggak akan ngerubah jenis kelamin pendengernya. Jadi plis udahan deh bagi-bagi jenis musik dalam kategori cewe atau cowo. Musik ya musik, entah apa kata orang-orang, suka ya suka aja.

Saya pernah sih punya teman yang jiwa fanatiknya udah menakutkan buat saya. Dia orangnya nasionalis dan hanya suka dengan yang berbau Indonesia. Waktu itu saya muter lagu slow rock sebangsa lagu-lagunya Nike Ardila juga Amy Search dan nama-nama lain yang udah mesti identik dengan Malaysia. Teman saya langsung bilang gini,”Buat apa dengerin lagu dari negara yang suka klaim milik negara lain !“, yah waktu itu memang negara kita dan tetangga saling rebut hak paten lah. Maklum, sama tetangga meskipun rukun ya tetep ada cek coknya.

Saya bener-bener nggak ngerti waktu itu, apa hubungannya antara Malaysia yang mencoba merebut beberapa budaya bahkan pulau dengan pemain musiknya ? Apa gitu ? Kalau emang benci dengan Malaysia yang katanya suka ngrebut itu, bencilah pemerintahan dan orang-orang busuk di dalamnya, tapi jangan sampai semua yang serba Malaysia itu diblokir semua sampai-sampai musiknya juga. Kebencian macam apa itu ? Membabi buta nggak karuan. Apa salah pemain musiknya sampai mereka ikut-ikutan dibenci. Mereka tinggal di Malaysia karena Tuhan juga ngelahirin disana, besar disana dan netap disana. Kalau mereka punya pilihan sebelum lahir, mungkin banyak dari mereka yang milih lahir di Indonesia, dan mati-matian menjadi saudara kandung blogger yang kece badai ini. Sayangnya nggak gitu alur kehidupannya.

Kalau dipikir lebih rumit, ini semacam dosa ayah yang ditanggung sama anaknya, sungguh nggak adil banget. Mentang-mentang ayahnya maling terus anak-anaknya bahkan yang masih balita dibenci sama dihakimi sebagai maling, persis kaya ayahnya. Padahal cuma anak kecil yang belum berlogika tapi sudah dicap atas dasar dosa ayahnya. Apa sih salah si anak kecil itu ? Salahnya cuma dia dilahirin dari bapak seorang maling dan tinggal diantara masyarakat bejat yang doyan menghakimi orang lain secara buta.

Dan sebagai orang yang penasaran saya pun melakukan tes kebencian terhadap teman saya, bener nggak sih dia benci terhadap Malaysia sampai ke akar-akarnya ?

Misipun dimulai dengan mengutak-atik PC kerjanya dia yang sering saya tebeng buat iseng-isengan termasuk game dan browsing. Dan yang saya rubah adalah system sound saat buka aplikasi apapun, jadi ketika ada aplikasi yang dibuka itu otomatis akan muter suara yang telah diset. Dan saya set suara itu dengan potongan intro dari lagu Malaysia, New boyz yang durasinya palingan 10 detik. Awalnya dia protes kenapa ada suara muter pas buka program tapi lama kelamaan dia itu enjoy juga sama intro sound itu. Dan sama sekali nggak marah. Mungkin kalau dia tahu itu lagu Malaysia, saya bakalan dimutilasi sama jasad saya dibakar terus kepalanya dipajang di ujung tombak kaya di Game of Throne. Super duper ngeri.

system sound

Kesimpulannya sih, dia hanya salah menempatkan kebenciannya pada hal yang tidak semestinya tanpa membuka matanya lebih lebar terlebih dahulu.

Saya sendiri pun masih begitu. Meski musik tetaplah musik tapi tetap saja ketika nikmatin  A Little Piece of Heaven punya Avenged Sevenfold pas bagian And I will take what’s mine, create what God would never design (Dan aku akan mengambil apa yang menjadi miliku, membuat apa yang tidak dirancang Tuhan). Terasa ada yang ganjel.

Itu kalau yang nyanyi Band Indonesia, udah dibakar itu semua yang berkaitan dengan dengan Band itu sama orang Indonesia juga. Siapa sih yang berani ngerendahin Tuhan ? Apa sih yang tidak pernah dirancang oleh Tuhan ? Untugnya itu Band Amerika, paling banter itu diboikot besar-besaran, itu juga kalau ada yang duluan ngajuin petisi online dan banyak yang ikutan.

Sebenarnya lirik itu memang horor buat saya pribadi karena saya percaya Tuhan sudah merancang segalanya dan tak mungkin ada yang terlewatkan hal sekecil apapun. Mungkin lirik itu hanya kurang dua kata di akhir; for me, jika dua kata itu ditambahkan maka nggak masalah sih.

Itu baru satu lagu, lagu You and I punya 1D juga punya permasalahan yang sama tapi saya nggak mau bahas, mungkin belum. Nunggu rame-rame diboikot dan trending dulu mungkin. Sementara ini ya nikmatin dulu musik apa adanya tanpa menghakimi lirik sebelum terjadi kesalahpahaman buta yang merembet kemana-mana.

Salam damai, musik itu universal.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s