Patah Hati dan Sebuah Teori tentang Luka

broken_heart.jpg

Ada orang yang habis patah hati, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya dan tragisnya menjadi tamu undangan di pelaminan. Ada rasa hancur, kecewa, luka kasat mata hingga tangisan menjadi satu-satu cara bertahan selain do’a semoga dikuatkan melewati semua itu.

Itu kisah orang lain, kisahku yang pilu sudah hilang terganti oleh kenangan-kenangan baru. Meski kenangan – kenangan baru itu kadang membawa-bawa kenangan lama.

Ditinggalkan oleh yang dicintai dengan alasan dia sendiri nggak cukup baik bagi kita, dia udah nemu pengganti, kita udah nggak cocok lagi, kita lebih baik temenan aja atau segudang alasan apapun adalah hal tersakit yang harus dialami oleh setiap manusia yang jatuh cinta. Seolah diri kita, versi terbaik dari kita tak pantas mendapatkannya bahkan untuk versi terburuknya.

Sejatinya orang kalau lari dari sebuah hubungan, ia tidak serta merta langsung kabur begitu saja. Jauh sebelum itu sudah ada niat kecil yang samar oleh kata tulus, aku sayang kamu selamanya dan berbagai macam kata manis lainnya. Dan niat, sekecil apapun hanya butuh kesempatan untuk mewujudkannya. Jika kesempatan itu ada meskipun kecil maka gayungpun bersambut.

Tapi cerita luka belum berakhir karena luka itu semacam game yang punya level sendiri. Baru pacaran sekali langsung ditikung temen, ah itu sebelum seberapa dibandingkan udah tunangan malah bubaran dan milih orang lain yang nggak lain temen deketnya sendiri. Itu juga belum seberapa dari pas akad nikah, si calon malah kabur dengan mantan.

Jadi, jangan ngerasa menjadi mahluk paling menderita, mahluk paling sial dalam urusan cinta. Level luka cintamu mungkin baru level-level rendah, level-level pemula, masih ada level selanjutnya level expert yang menantinya.

Jika dibikin sebuah hirarki, maka bolehlah ini menjadi gambaran kasar dan singkat namun mewakili sebuah asal mula sebuah hubungan hingga tujuan akhirnya.

 

  1. PDKT
  2. Jadian
  3. Tunangan
  4. Nikah
  5. Punya Keturunan

Itu baru gambaran besarnya saja dari level hubungan ada level patah hatinya sendiri dan setiap level itu punya sub level lagi dan lagi seolah itu adalah level tanpa batas. Dan level tersakit tentu saja level terakhir, level dimana manusia sampai ditujuan hidupnya (berketurunan).

Mungkin bocah remaja bilang bahwa sakitnya pacar ditikung oleh teman sendiri itu sakitnya nggak ada yang nyamain. Coba aja bayangin ketika udah tua, anak dan cucu dimana-dimana, badan semakin tak berdaya dan orang yang seharusnya duduk bareng melewati sisa akhir hidup malah memilih meninggalkan kita demi orang lain dimana usia sudah terlalu lelah dan malas untuk mencari penggantinya? Sedihnya mungkin tak terbatas, sendirian meregang nyawa dan tak ada siapa-siapa selain bertemankan luka dalam sambil meratapi kegagalan hidupnya.

Mungkin boleh saja bilang, udah kakek-kakek nenek-nenek sudah kenyang cinta dan tak butuh lagi cinta. Tapi justru orang yang bilang tak butuh cinta adalah orang yang paling butuh. Dan sejatinya manusia tak akan pernah kenyang oleh cinta, manusia selalu haus oleh cinta. Kalau ada orang bilang ia sudah kenyang cinta dan tak butuh lagi berarti ia dalam kondisi kritis dan memprihatinkan. Dan orang jenis itu adalah orang yang paling butuh cinta, paling butuh !

Itulah mengapa bahwa orang yang ditinggalkan pas baru jadian itu nggak ada apa-apanya daripada ditinggal pas lagi tua-tuanya, dimana lagi butuh-butuhnya pegangan disisa akhir hayat.

Tapi yang namanya patah hati ya tetap patah hati, serendah apapun levelnya tetap saja patah hati, luka dan perihnya beda dengan luka fisik yang gampang sembuhnya. Luka yang mampu membuat wajah sangar penuh tato meringkuk menangis sesegukan di pojokan.

Dan saya bersyukur, dibalik luka hati tiga tahun sayang-sayangan hingga akhirnya dia memilih orang lain ada hikmah yang bisa dipetik. Karena itu mungkin cara Sang Khalik melindungi hati ini dari luka yang lebih dalam karena Dia tahu kalau hati ini begitu rapuh dan tak sanggup menahan luka ketika sudah level akhir nanti dia bakal kabur dengan orang lain.

Dan mungkin juga dibalik do’a sunyiku Tuhan telah mengiriman seseorang yang akan menemaniku hingga akhir hayat nanti. Duduk bersama hingga tua, tidak ada kata atau saling tatap tapi tangan kami saling menggegam erat satu sama lain.

Sumber gambar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s