Kopi, Teman Jumpa Kekasih

Layaknya seorang kekasih yang lama tak bertemu, terpisah jauh hingga tak ada komunikasi, tak ada cerita dan tak ada saling sapa. Maka sudah tentu ketika sekali bertemu maka langsung saja bermacam-macam perasaan, cerita dan segala kegundahan hati tertuang satu demi satu untuk satu tujuan pula; ketenangan batin.

Agaknya memang begitu ilustrasi sederhana antara saya dengan blog ini. Kita ini sudah mirip sama sepasang kekasih yang ogah dipisahkan, sekalipun saya lari mencari kekasih yang lain tapi tetap saja saya kembali dan terus kembali lagi kesini karena hati ini sudah dimiliki oleh blog ini, jadi tak ada alasan pindah ke lain hati. Dan untuk yang jatuh cinta sama saya boleh kog patah hati, sambil nangis-nangis kalo perlu, ntar aku temani sambil bawa kanebo (dengan pertimbangan bahwa kanebo lebih bagus menyerap air mata ketimbang tisu plus asumsi bahwa ketika cewe nangis bawaannya ogah udahan, pengennya nangis terus).

Begitulah kisah asmaraku dengan blog ini, meski pasang surut nggak karuan kaya asmara para abege labil namun tetap saja hubungan ini terus berlanjut.

Dengan kepergian saya yang begitu lama meninggalkan kekasih ini maka otomatis banyak sekali rasa yang ingin saya curahkan, ada rasa jengkel, gedeg, prihatin, sedih, seneng dan rasa campur aduk lainnya yang kalau diceritakan nggak kalah membosankannya dengan drama sinetron di telepisi.

Pun begitu, perjumpaan saya dengan sang kekasih tidak sendirian, ada kopi yang kini setia menemani. Dengan banyaknya cerita yang pasti melelahkan dan membosankan, maka saya putuskan untuk mengakhiri progam detok saya dengan minum air putih saja selama tiga tahun lebih. Kini secangkir kopi kembali menemani setiap jari-jari ini menari dengan aduhainya di atas keyboard.

Cup of hot latte art coffee on wooden table

Tenanglah kekasihku, dengan secangkir kopi disampingku maka akan ku lalui tengah malamku demi mencari waktu ekslusif untukmu, waktu dimana tak ada manusia yang mengusik waktu kita saling merindu. Akan ku lalui lelahnya kantuk ini hingga adzan Shubuh berkumandang. Ku pastikan tidak ada cerita yang terlewat untukmu dan setelah itu kau bebas bercerita kepada siapapun yang kau mau aku tak melarang.

Jadilah pendengarku terus kekasihku, karena hanya kepadamu aku bebas mengadu tanpa malu atau pun ragu. Dan jika suatu saat nanti aku pergi, aku pergi mencari cerita untuk ku bagi denganmu. Mungkin aku pergi ke puncak gunung, ke lereng-lereng, menebah hutan atau menjelelah tempat lain yang asing tapi semua itu ku lalui demi sebuah cerita untuk ku bawa pulang dan di perdengarkan kepadamu dan hanya padamu. Setelah itu engkau bebas bercerita kepada siapa pun yang engkau mau.

Udah, itu saja sementara. Kopiku udah habis, mau bikin lagi.

Note *) Kopi beserta cangkirnya ngambil dari sini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s