Anak Liar, Sebuah Curhatan

Hati ini selalu miris ketika mendengar anak orang yang mulai bandel, sering keluryuran malem bareng teman-teman, hidup di jalanan lalu pulang udah dalam keadaan teler oleh pengaruh minuman alkohol. Atau anak perempuan kabur selama berhari-hari tanpa tahu kemana perginya dan dengan siapa. Ada sesuatu yang nggak beres disini.

Lebih miris lagi ketika mereka pulang di rumah orang tua dan segenap anggota keluarga memarahinya habis-habisan tanpa kunjung henti. Itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah, hanya memperbesar masalah yang ada dan memunculkan masalah yang sebenarnya nggak perlu.

Saya tidak lagi bicara tentang mendidik anak, saya belum juga nikah apalagi punya anak. Tapi sebagai anak dan saya punya suara sendiri, maka saya pun ingin menyampaikan pandangan saya, kenapa anak tiba-tiba berubah liar dan menjadi durhaka yang segala tingkah lakunya hanya bikin malu orang tua. Jadi ini bukan perkara menggurui orang tua cara mendidik anak. Ini hanya sekedar curhatan anak, itu saja.

Jika para orang tua jeli, anak tidak serta merta menjadi liar dengan seketika, ada pola perubahan yang terjadi sebelum anak benar-benar di luar kendali.

Hal pertama yang pasti jika anak menjadi berandal, liar dan terkontrol pasti karena komunikasi yang buruk antara anak dan orang tua. Ini menjadi hukum mutlak dan bisa dicek anak-anak yang durhaka di luar sana yang selalu membangkang terhadap orang tua. Bisa dilihat dari cara bicaranya yang selalu meremehkan orang tua, marah-marah dan membentak seolah apapun yang dibicarakan selalu menyulut adu mulut. Kalo sudah begitu sudah jaminan anak itu bakalan lepas.
Yang aneh dari kebanyakan orang tua adalah mereka mau bicara dari hati ke hati ketika anaknya udah ngelakuin kesalahan yang fatal (mabok, tawuran, berkelahi atau sejenisnya). Lah dari dulu kemana aja woi ?

Jangan dianggap bahwa benang komunikasi anak-orang tua bisa dijalin hanya dalam waktu yang singkat. Itu mimpi yang ketinggian dan jatuhnya sudah pasti sakit. Komunikasi orang tua itu bukan kaya komunikasi antara kekasih baru yang semuanya masih serba maklum dan masih mau mengerti satu sama lain. Ini lebih antara majikan dan jongos, ada gap yang luar biasa dalamnya dan butuh lama menjalinnya. Sejak kapan ? Sejak kecil ketika baru lahir ketika komunikasi hanya bisa terjalin lewat sentuhan-sentuhan kasih sayang. Dari situlah bibit komunikasi harusnya ditanam dan jangan lupa untuk tetap merawatnya.

Sayangnya para orang tua sering melewatkan hal penting ini. Mereka lupa bahwa komunikasi menjadi kunci mutlak dalam mendidik anak, mereka pikir bahwa mendidik anak itu perkara materi. Asal materi terpenuhi maka anak akan menjadi baik dengan sendirinya. Makanya mereka lebih sibuk mencari materi lalu lupa caranya berkomunikasi. Mereka sudah salah sejak awal maka jangan harap akan berakhir dengan benar. Jalan yang salah tak pernah menuntun pada tempat yang benar.

Monggo dicek mereka yang punya anak-anak nakal dan menjadi berandal, cek bagaimana orang tua memperlakukan mereka. Apakah mereka mau meluangkan waktu kosongnya sejenak untuk berbasa basi kepada anak nanya tentang bagaimana sekolahnya, bagaimana teman-temannya atau sekedar duduk disampingnya mendampingi anaknya mengerjakan PR. Meski tindakan itu sepele tapi dengan begitu anak merasa diperhatikan dan dilindungi yang pada akhirnya mereka nyaman. Nyaman dengan keluarga dan akhirnya nyaman dan betah tinggal di rumah. Mereka tidak akan lari ke jalanan, mencari teman untuk mengisi kekosongan perhatiannya dan mencari perlindungan semu atas nama persahabatan yang semua itu terwujud dalam bentuk alkohol atau bahkan narkoba. Ketika anak sudah masuk fase itu, susah untuk mereka untuk kembali.

Dan sekedar pesan dari anak untuk para orang tua, luangkanlah waktu untuk mereka sesibuk apapun waktumu, selelah apapun harimu. Luangkan waktu sejenak sekedar bicara ringan antara anak dan orang tua, tanyai bagaimana harinya, bagaimana teman-temannya, apakah ada yang menganggu pikiranya ?

Luangkan waktumu untuk mengumpulkan semua keluarga, sita semua hapenya, silent dan bikin acara keluarga, entah sekedar nonton film keluarga atau hanya bakaran sosis di belakang rumah. Ajak mereka berkumpul karena dari kumpul itu tercipta kebersamaan dan dari kebersamaan akan tercipta dan terjalin komunikasi yang hangat dan bersahabat yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa nyaman dalam keluarga.

Mungkin hanya itu curhatan seorang anak kepada orang tua, berharap ketika saya menjadi orang tua nanti ada anak yang mau curhat seperti saya. Plus jangan tanya kapan saya menjadi orang tua, itu pertanyaan yang menyiksa. Jodoh saya mungkin bukan seperti Puteri Cinderella yang datang dengan kereta kencana plus sepatu kaca, tapi mungkin saja jodoh saya seorang putri yang naik kura-kura dan nyasar entah kemana tanpa tahu cara gunain GPS ditambah lagi gengsian banget buat nanya.

Gambar nyomot dari sini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s