Beauty and The Beast

Dari sebuah cerita yang sangat melegenda tentang kisah cinta Si Cantik dan Si Buruk Rupa, terselip sebuah harapan dan fantasi liar bahwa orang yang jelek bisa dapet wanita cantik. Meski ini adalah hal yang klise tapi tetap saja topik ini selalu menarik untuk dibahas. Kenapa ? Karena ini adalah dua hal yang bertolak belakang, seperti dua dunia yang berbeda tapi akhirnya menyatu.

Dalam dunia perfilman memang konsep Beauty and The Beast masih sering diadaptasi dalam berbagai model, mulai dari anak kere cinta sama anak konglomerat, anak desa yang cinta sama anak kota atau rakyat biasa cinta pada anggota kerajaan, dan lain-lain. Konsep film ini masih laris manis dan nyatanya masih sukses meraih simpati penonton. Sebut saja The Heirs, drama korea yang mengisahkan anak pembantu bisu yang mencintai anak majikannya. Drama ini menarik menurut saya, walau saya bukan penggila drama korea, tapi untuk yang ini saya tuntas nontonnya. Meski ada beberapa hal yang sangat klise tapi tetep keren karena tertutupi oleh soundtracknya yang hampir semua bagus-bagus. Dan sampe sekarang saya masih dengerin lagu-lagunya, terutama milik Park Shin Hye yang judulnya Story. Itu lagu bikin gemes sendiri karena satu menit terakhir kaya lagunya Bonjovi yang Never Say Goodbye.

Dalam realita kehidupan yang nyata, kisah Beauty and The Beast sebenarnya adalah hal yang lumrah, bukan sesuatu yang mejis atau mustahil. Mana ada orang cantik mau sama orang jelek ? Menurut saya ada dan banyak, tinggal kamu masuk hitungan orang jelek itu apa enggak.

Ada satu titik dimana seseorang mencari zona aman dalam membina sebuah hubungan. Misalkan seorang wanita cantik yang berkali-kali gagal dalam membina hubungan karena ia selalu diselingkuhin. Kebosanannya karena selalu diselingkuhin sedangkan dia menginginkan sebuah hubungan yang serius, maka ia akan membuat keputusan yang akan menempatkannya di zona aman, maka jadilah keputusan itu, “Kriteria cowo gue nggak muluk-muluk, yang penting dia orangnya setia dan tanggung jawab.”

Padahal dia cantik, nyari yang ganteng yang enak diihat secara fisik harusnya gampang. Nggak nyari aja udah banyak yang antri. Tapi disinilah letak keadilannya, rasa bosan karena terus diselingkuhi menjadikannya mengesampingkan masalah kegantengan. Dan buat orang jelek, asal dia nggak jelek-jelek amat dan punya kriteria diatas, bisa masuk dan kemungkinan sukses. Dan itu juga yang menurut saya sebagai anugrah buat saya dan orang jelek lainnya, bahwa orang ganteng meskipun menjadi pujian bagi semua wanita, belum tentu memenuhi tuntutan rasa nyaman dalam sebuah hubungan. Karena nggak semua orang ganteng itu setia, peduli, tanggung jawab, melindungi atau mengayomi. Dan justru sifat-sifat itu kadang datang dari para manusia jelek. Sadar bahwa rupa tak lagi bisa diandalkan, maka tak ada cara lain selain dengan mempolesnya dengan sifat-sifat positif seperti yang disebut diatas. Jika dalam film Beauty and The Beast punya slogan ‘Biar jelek yang penting kaya’, maka dalam realita slogannya, ‘biar jelek tapi hatinya baik’.

Sering ketika saya jalan sama temen di alun-alun lalu nemu cewe cantik gandengan sama orang yang menurut kita level gantengnya masih tinggian kita, enggak tahu kalo dari level tajirnya. Lalu temen saya berseloroh setengah emosi,”Gue jadi pengen macarin orang sini, pada buta-buta, ga bisa liat muka ! Masa orang sejelek itu dipacarin ?!”

Saya mah diem aja dan mengiyakan, saya nggak mau menjadi debat panjang yang nggak saya inginkan. Karena menurut saya orang yang menemukan cinta adalah orang yang menemukan rasa aman dan nyaman pada diri seseorang lain, tak peduli lagi pada fisik/rupa. Ya mungkin saja wanita cantik tadi telah menemukan cintanya, menemukan rasa aman dan nyaman pada diri orang yang digandengnya. Dan siapa tahu dibalik rupanya yang kurang beruntung dia dianugrahi jiwa sosial yang tinggi, sifat penuh kesabaran, kedewasaan yang dibutuhkan wanita cantik itu tadi. Yah, siapa yang tau, kebanyakan orang hanya memandang sekilas.

Jadi buat para manusia jelek diluar sana yang mendamba perbaikan keturunan, tetaplah optimis karena pada akhirnya seseorang tidak memilih rupa dalam mencari pasangan hidupnya. Dan tetaplah menjadi orang baik, karena jika kamu tidak bertemu orang baik, kamu akan ditemukan oleh orang baik.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s