Pesan dari Puncak Merbabu

Akhir tahun 2017 kemarin dihabiskan dengan menjajagi puncak Gunung Merbabu bersama 7 orang lainnya. Tapi cerita yang saya bagi tidaklah tentang pendakiannya atau pamer keindahan alam dari puncak sebagaimana waktu menaklukan puncak Gunung Sindoro karena pendakian ke Gunung Merbabu membawa cerita lain, sebuah cerita berupa pesan untuk diri sendiri dan untuk semuanya, sebuah Pesan Dari Surga (eh, ini judul film ding….).

Perjalanan ke puncak Merbabu kemarin memang belum matang, kita nyasar selama tiga jam muter-muter mencari jalur pendakian via Selo yang mana nyasar selama tiga jam bukanlah suatu rencana dalam ekspedisi ini. (sengaja pake ekspedisi biar keren). Dan itu belum disusul sama drama-drama lain sepanjang perjalanan yang tak perlu diceritakan secara detail. Tapi tak apa, drama itu tidaklah penting, karena yang penting adalah pesan yang saya bawa dari Merbabu itu sendiri.

Merbabu adalah gunung kedua yang sukses dijajagi setelah Sindoro. Selama jeda itu pula, saya beberapa kali ke Bukit Prau di Dieng. Tapi selama beberapa kali wisata alam, baru di Merbabu lah ada rasa aneh yang memasuki pikiran ini. Sempet menduga kalo saya kesambet Jin Merbabu tapi langsung saya tepis dengan segera karena yang ada malahan Jin Merbabu yang kesambet ama saya. (Kemudian terdengar tawa ala dukun santet).

Pesan dari Merbabu didapat sewaktu baru keluar dari Pos Administrasi. Sebagaimana bayangan wisata alam pada umumnya, pastilah kita ingin disuguhi dengan bentangan alam yang luas, pohon tinggi, besar dan kekar serta rumput hijau yang segar. Tapi di Merbabu, hal pertama yang disuguhkan adalah SAMPAH, yah SAMPAH ! (maaf, kapslok kepencet). Sampah berserakan nggak karuan, sebagian hampir ke jalan yang saya lewati. Miris ngeliatnya, tapi itulah kenyataannya.

Merbabu adalah contoh kecil dari gambaran tempat umum yang ramai dikunjungi orang di Indonesia. Ada banyak tempat wisata bagus di Indonesia, entah itu tempat wisata alam atau yang lain tapi selalu gagal mempertahankan citra bagusnya gara-gara sampah.

Sebagai manusia mager yang jarang keluyuran kemana-mana, saya sempet tidak percaya waktu ngeliat tayangan di TV kalau Indonesia darurat sampah. Pikiran saya waktu itu adalah yang darurat sampah adalah Ibukotanya bukan secara nasional. Tapi setelah ke Merbabu kemarin, pikiran saya sedikit terbuka, Indonesia memang darurat sampah dimana ditempat-tempat umum yang ramai, gunungan sampah yang tidak terurus mudah sekali ditemui. Sebuan PR besar untuk kita semua.

Kesadaran masyarakat Indonesia tentang membuang sampah pada tempatnya memang masih sangat rendah. Seolah-olah bahwa sampah bukanlah suatu masalah yang besar, sebuah masalah yang selesai hanya dengan lempar lewat jendela mobil, buang ke sungai atau lempar kemana aja asal nggak keliatan terus secara ajaib sampah itu terurai secara sendirinya dalam waktu yang singkat dan langsung kembali menjadi unsur bumi. Sayangnya bukan begitu cara kerja alam.

Kadang saya heran ketika orang yang suka buang sampah seenaknya tapi protes ketika ke pantai dan ternyata pantainya penuh dengan sampah. Mereka pikir sampah itu dari mana ? Dari orang yang datang ke pantai ? Ndak ! Sampah yang dipantai itu bukan cuma dari situ saja, tapi dari sampah di mana saja yang kebawa arus air lalu sampai ke sungai dan diteruskan lagi ke pantai termasuk sampah yang dibuang di halaman rumah. Makanya nggak usah protes kalau pantainya kotor. Proteslah ketika buang sampah seenaknya karena itu sumber masalah utamanya.

Karena itulah saya salut sama turis-turis yang datang ke Indonesia yang tanpa gengsi atau risih nyakuin bekas minuman kaleng atau naruh di tas sampai bener-bener nemu tempat sampah. Kenapa mereka begitu ? Karena jika kelak mereka datang kembali kesini bersama teman atau keluarganya tempat ini masih bersih, indah dan nyaman seperti dulu. Turis aja yang sekedar singgah punya pikiran menjaga seperti itu, tapi kita yang dititipi alam begitu indah malah dirusak dengan nyampah sembarangan. Dan andaikan ada turis yang suka buang sampah sembarangan, pasti itu turis udah lama tinggal di Indonesia, jadi kelakukannya ikut lokal. So bad.

Kini setelah saya ikut-ikutan nyakuin sampah, setiap mau nyuci pasti nemu bungkus jajan, mulai dari bungkus beng beng sampai bungkus permen yang kalo dipikir-pikir bikin geli sendiri. Yah setidaknya sampah itu nemuin tempat yang seharusnya tanpa harus berkeliaran di got sampe bikin mampet atau reuni di sungai yang bikin banjir dan istirahat di pantai yang bikin sepet mata, meski harus tinggal dalam saku untuk beberapa waktu yang tak tentu.

Mungkin apa yang saya lakuin tidak menjadikan Indonesia jadi lebih bersih karena manusia yang nyampah sembarangan jumlahnya tidak karuan, tapi paling tidak saya tidak memperburuk keadaan. Just it !

Itulah pesan dari Puncak Merbabu, untukku dan untukmu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s