Sebuah Harga Ketulusan

Ada seorang usahawan yang sukses yang hidup sebatang kara dalam usia senjanya. Ia hidup diatas kursi roda dengan 20 orang perawat. Setiap hari 20 orang perawat itulah yang mengurusi dirinya, mengurus rumah serta keperluan hidup lainnya.

Perawat – perawat itu digaji dengan gaji yang tinggi. Setiap satu tahun sekali gajinya naik dua kali lipat. Namun diantara perawat – perawat ada satu yang gajinya tidak pernah naik.

Ketika perawat – perawat yang lain telah hidup dalam kemewahan dan mulai sibuk dengan urusannya sendiri, perawat itu masih setia dengan pekerjaannya sebagai perawat usahawan yang sukses itu.

Ada kegundahan luar biasa yang terbeslit dalam hatinya, ingin ia utarakan pada tuannya, namun ia urungkan. Ia mencoba bersabar, barangkali tuannya sedang salah. Jadilah ia menunggu hingga tuannya menyadari kesalahannya.

Lambat laun, satu persatu perawat itu mulai mundur hingga akhirnya cuma tersisa perawat itu tadi.

Suatu hari perawat itu memandu tuannya memutari taman.

“Dimana yang lain ? Mengapa kamu sendirian hari ini ?”Tanya usahawan itu.

“Mereka semua sudah pergi tuan dari kemarin – kemarin dan belum menemukan penggantinya.”

Hati perawat itu berdebar – debar, ia ingin mengutarakan kegundahan hatinya yang selama ini pendam dan ia tahan. Tapi ia merasa takut bahwa hal itu akan menyinggung atau melukai perasaan tuannya.

Namun ia merasa tersiksa memendam rasa itu terus menerus. Akhirnya dengan dengan sedikit keberanian yang ia punyai. Ia pun mengutarakan hal itu pada tuannya.

“Tuan, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan ?”

Akhirnya kalimat itu terucap.

“Silakan, apa yang ingin kamu tanyakan ? Tidak usah sungkan.”

“Mengapa saya tidak diperlakukan seperti yang lain tuan ?Bukannya saya merasa kurang dengan semua yang tuan berikan, tapi saya hanya ingin saya dihargai sebagaimana yang lain.”

Begitulah, meski berat akhirnya gumpalan rasa yang dipendam terlepas juga. Lega rasanya bisa mengungkapan rasa itu pada tuannya. Namun ia menyesalkan, mengapa tuannya tidak menjawab pertanyaannya. Ia diam dalam kursi rodanya, diam dan terus diam hingga taman itu selesai diputari. Namun perawat itu tahu, tuannya menangis. Entah apa yang membuatnya seperti itu.

Keesokan harinya tuannya lebih banyak berdiam diri di kamar.

Tak berselang lama setelah kejadian itu, usahawan itu akhirnya tutup usia. Dan setelah pemakaman itu selesai, ada selembar surat yang tujukan kepadanya dari mendiang tuannya.

Maaf sudah menyusahkan dan membuatmu menderita selama menjaga dan merawatku. Ada satu hal yang ingin aku engkau ketahui. Aku sengaja tidak memperlakukanmu seperti yang lain bukan karena aku tidak menghargaimu. Aku tahu diantara perawatku, hanya engkau yang paling tulus dan ikhlas merawatku. Dan lebih dari itu aku sangat menyayangimu lebih dari yang lain. Tapi aku tidak ingin engkau menafsirkan kasih sayangku dalam wujud materi atau benda. Tapi jika kau ingin hal itu, maka telah ku wariskan segala harta dan kekayaanku padamu. Mungkin itu tidak sepadan dan terlalu kecil bila dibandingkan akan ketulusan dan keikhlasanmu. Tapi hanya hal kecil itu yang bisa ku lakukan.

Sebuah cerita adaptasi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s