Happy Birthday

Kamu manis, terlihat manis dan cantik waktu itu. Tinggal tiga hari lagi kan ? Kita mencapai empat tahun perjalanan rasa ? Empat tahun. Bukan sekedar hari yang terlewat. Tapi rasa yang bercampur baur menjadi kepingan-kepingan waktu dan membentuk sebuah aku sekarang.

Menyesal ? Penyesalan itu selalu ada dalam benaku. Menyesal karena akhirnya aku terluka begitu dalam. Aku tak tahu dalam detik terakhirku ini rasionalitasku masih berjalan dengan normal layaknya hari-hari sebelum “hari itu” tiba.

Hari itu terjadi pemadaman hampir di seluruh wilayah Jawa Tengah. Hari itu aku masih sibuk menelfonmu untuk kesekian ratus kalinya dan tak pernah kau angkat. Aku akui itu kesalahanku yang selalu mengabaikanmu. Dan hari itu akhirnya kamu bisa menerima telfonku. Meski sedikit kaku ada rasa bahagia yang menyelimuti hatiku. Entahlah, aku tak pernah merasakan kelegaan seperti itu.

Kita saling berbincang, menanyakan kabar, keluarga dan segalanya tentang kita. Hingga dalam keadaan terisak tangis kamu pun menghunuskan pisau itu kepadaku. Tepat mengenai hati dan jantungku.

“Aku sedang tidak berbohong, tapi aku telah memilih orang lain. Pergilah dan carilah orang lain yang lebih baik dari aku.”

Aku tak pernah tahu apa arti pernyataan sepihak itu berlaku. Aku mencoba mencari penjelasan tapi hanya kesakitan yang aku rasakan. Hari itu hari dimana aku seperti melayang diatas awan tergantung diantara bumi dan langit. Tak tahu apa yang akan ku pilih, langit atau bumi.

Saat itulah dimana kehidupanku tumbang oleh seorang perempuan yang kesebut pacar atas nama LDR. Apa yang kurasakan saat itu adalah lemas, jantung yang tak henti-hentinya berdetak begitu kencang, pusing dan lidah yang semakin pahit terasa. Tak ada makanan yang dapat kurasai mulai hati itu. Bahkan mata tak pernah berhenti untuk menunjukan kelopak matanya semalaman. Rasa macam ini ? Terbunuhkan aku ?

Kehidupan yang ku jalani saat itu tak pernah jelas. Yang kupikir adalah bagaimana aku bisa lepas dari rasa itu. Bagaimana agar aku bahagia, bahagia dan bahagia. Setidaknya aku bisa tertawa. Tapi apa ? Setiap hal kecil saja ingatan itu kembali, aku terasa bahwa aku tak pernah sanggup melewatinya sendirian.

Waktu itu aku sedang menulis Diary perjalanan Avelle pada sekolah SMA yang baru mentok pada chapter lima kalo nggak salah. Dan langsung saja, diary itu tak tertulis lagi dan blogpun ikut mati.

Banyak hal yang kupikirkan agar aku bisa bangkit lagi. Satu hal yang harus aku lakukan. Aku harus mengingatmu, dengan begitu aku bisa terlupa. Karena jika melupakanmu aku pasti akan teringat denganmu.

Hari ini ? Ini hari lahirmu. Tak seperti pada usiamu yang ke 21 itu. Kita sempat berdoa, meniup lilin dan bermain-main dengan kue yang ku beli di Pasar Subuh.

Photo0415

Di hari itu aku tak pernah lupa, aku berikan kado pertamaku kepadamu. Marmut Merah Jambu. Raditya Dika.

Photo0446

Photo0445

Meskipun bukunya ada padaku sekarang.

Di hari bahagiamu ini. Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Semoga apa yang kau harapkan tercapai.

Selamat ulang tahun.