Beauty and The Beast

Dari sebuah cerita yang sangat melegenda tentang kisah cinta Si Cantik dan Si Buruk Rupa, terselip sebuah harapan dan fantasi liar bahwa orang yang jelek bisa dapet wanita cantik. Meski ini adalah hal yang klise tapi tetap saja topik ini selalu menarik untuk dibahas. Kenapa ? Karena ini adalah dua hal yang bertolak belakang, seperti dua dunia yang berbeda tapi akhirnya menyatu.

Dalam dunia perfilman memang konsep Beauty and The Beast masih sering diadaptasi dalam berbagai model, mulai dari anak kere cinta sama anak konglomerat, anak desa yang cinta sama anak kota atau rakyat biasa cinta pada anggota kerajaan, dan lain-lain. Konsep film ini masih laris manis dan nyatanya masih sukses meraih simpati penonton. Sebut saja The Heirs, drama korea yang mengisahkan anak pembantu bisu yang mencintai anak majikannya. Drama ini menarik menurut saya, walau saya bukan penggila drama korea, tapi untuk yang ini saya tuntas nontonnya. Meski ada beberapa hal yang sangat klise tapi tetep keren karena tertutupi oleh soundtracknya yang hampir semua bagus-bagus. Dan sampe sekarang saya masih dengerin lagu-lagunya, terutama milik Park Shin Hye yang judulnya Story. Itu lagu bikin gemes sendiri karena satu menit terakhir kaya lagunya Bonjovi yang Never Say Goodbye.

Lanjut Njoot !

Iklan

Pesan dari Puncak Merbabu

Akhir tahun 2017 kemarin dihabiskan dengan menjajagi puncak Gunung Merbabu bersama 7 orang lainnya. Tapi cerita yang saya bagi tidaklah tentang pendakiannya atau pamer keindahan alam dari puncak sebagaimana waktu menaklukan puncak Gunung Sindoro karena pendakian ke Gunung Merbabu membawa cerita lain, sebuah cerita berupa pesan untuk diri sendiri dan untuk semuanya, sebuah Pesan Dari Surga (eh, ini judul film ding….).

Perjalanan ke puncak Merbabu kemarin memang belum matang, kita nyasar selama tiga jam muter-muter mencari jalur pendakian via Selo yang mana nyasar selama tiga jam bukanlah suatu rencana dalam ekspedisi ini. (sengaja pake ekspedisi biar keren). Dan itu belum disusul sama drama-drama lain sepanjang perjalanan yang tak perlu diceritakan secara detail. Tapi tak apa, drama itu tidaklah penting, karena yang penting adalah pesan yang saya bawa dari Merbabu itu sendiri.

Merbabu adalah gunung kedua yang sukses dijajagi setelah Sindoro. Selama jeda itu pula, saya beberapa kali ke Bukit Prau di Dieng. Tapi selama beberapa kali wisata alam, baru di Merbabu lah ada rasa aneh yang memasuki pikiran ini. Sempet menduga kalo saya kesambet Jin Merbabu tapi langsung saya tepis dengan segera karena yang ada malahan Jin Merbabu yang kesambet ama saya. (Kemudian terdengar tawa ala dukun santet).

Lanjut Njoot !

Begal

Kalo ada yang uring-uringan dan ngedumel nggak genah akibat ketilang sama Polantas trus curhat tilangnya kena berapa ratus ribu, saya sih masih mau dengerin. Tapi kalo curhatnya nggak ada habisnya dan terus ngeluh seolah menjadi mahluk paling malang di dunia ini akibat ketilang saat dompet pas-pasan, lama-lama saya juga pengen nyolot,”Masih untung ketilang ama Polisi, cuma kena berapa ratus ribu. Coba ketilang ama begal, nyawa juga bisa ketilang !”

Oke, marahnya udahan.

Sebagai manusia yang terlalu biasa, saya juga pernah ketilang, tapi itu dulu, dulu banget pas naik motor tapi mata meleng entah kemana, tau-tau udah dipinggirin ama Pak Polisi. Nggak tahunya masuk zona roda empat. Sempet debat sih ama Pak Polisi, masa minta duit tilang setengah juta ? Gila, emang uang saya ngalir dari kran dapur apa ? Padahal kesalahan saya cuma kecil, keblablasan masuk jalan khusus roda empat. Akhirnya saya minta ditilang aja SIMnya, eh malah Pak Polisi turunin harga damai, cuma 50 ribu (diskon 90%). Sebagai rakyat awam yang tidak menghendaki adanya keribetan, ya deal lah, duit tilang segitu. Tapi itu dulu, untungnya sekarang udah ada saber pungli, tilang model gitu harusnya udah nggak ada.

Lalu, gimana ceritanya kog saya bisa ketilang sama begal dan masih hidup ampe sekarang ? Lanjut !