Love & Reasons

Saya sering baca di status media sosial atau di kutipan-kutipan romantis yang kurang lebih begini, ‘Aku tak butuh alasan untuk mencintaimu, jika aku punya alasan untuk mencintaimu maka aku punya alasan untuk meninggalkanmu.‘ Dan itu pun sama kaya di salah satu film Raditya Dika yang entah apa judulnya yang jelas adiknya tanya sama si Dika, “Emang cinta butuh alasan Ka ?”. Dan saat itulah Dika sadar, cinta tak butuh alasan.

Mungkin banyak orang di luar sana yang setuju dengan statemen tersebut, karena yang mungkin nggak setuju cuma saya doang (dengan persepsi bahwa saya belum mendengar, melihat atau membaca tulisan orang kalau cinta butuh alasan). Yap, buat saya cinta itu butuh alasan.

Kog bisa ?

Oke, begini persepsinya. Menurut saya, cinta dan benci adalah dua hal yang beriringan, saling memburu, saling mengalahkan satu sama lain dan itu akan terus berseteru selama-lamanya tanpa akhir. Itulah makanya ada cinta jadi benci dan benci jadi cinta. Jadi, apa sih yang melahirkan cinta, apa pula yang melahirkan benci ? Menjawab pertanyaan itu saja udah jelas, cinta butuh alasan begitu juga dengan benci.

Jika kamu termasuk golongan cinta tak butuh alasan dan kurang setuju dengan pernyataan itu, maka coba jawab dengan masuk cerita imajiner ini.

Posisikan kamu mencintai seseorang dan kamu mencintainya tanpa alasan. Itu artinya kamu tidak punya alasan untuk meninggalkannya atau membencinya karena yang kamu punya adalah cinta dan cinta, tak ada lagi selain cinta bahkan benci pun tak ada sedikit pun. Lalu kemudian dia membunuh ibumu dengan sadis cara mutilasi. Apakah kamu masih mencintainya ? Masih ? Oke lanjut. Lanjut Njooot !

Iklan

Short Term Relationship

Sering saya bertanya pada diri sendiri ketika ada orang yang belum ketemu lama, masih dalam hitungan bulan bahkan ada yang baru kenal beberapa minggu tapi langsung aja pada merit. Pertanyaannya, dalam waktu sesingkat itu apa yang mereka yakini ?

Saya sama sekali tidak meragukan mereka yang langsung menyatakan nikah setelah ketemu beberapa hari atau beberapa minggu. Tapi yang saya ragukan adalah mereka adalah orang yang tidak bisa membedakan antara kegembiraan sesaat dan komitmen yang harus dihadapi ketika sudah nikah.

Oke, katakan saya adalah mahluk kuno yang menganut gaya lama yang menganggap seolah-olah nikah adalah hal sakral yang sulit dijalani. Yah, kenyataannya nikah itu sulit, banyak yang nggak survive.

Umpamakan saja saya ketemu dengan orang saya cinta, boleh ambil contoh dia itu Jen Ledger (beking pokal Skillet plus dramer). Setelah ketemu sama dia, ternyata dia juga suka sama saya karena ternyata selain saya gemesin saya juga mudah dianiaya terus ngasih makannya mudah, apa aja doyan dan cenderung rakus. Dan setelah kenal beberapa minggu, dia merasa bahwa kita adalah pasangan yang cocok dan dia ngajak untuk seriusan,”Bagaimana kalo kita nikah aja ?”(Sengaja saya bikin dia yang ngelamar duluan biar narasinya pas). Lanjut Njoot !

Beauty and The Beast

Dari sebuah cerita yang sangat melegenda tentang kisah cinta Si Cantik dan Si Buruk Rupa, terselip sebuah harapan dan fantasi liar bahwa orang yang jelek bisa dapet wanita cantik. Meski ini adalah hal yang klise tapi tetap saja topik ini selalu menarik untuk dibahas. Kenapa ? Karena ini adalah dua hal yang bertolak belakang, seperti dua dunia yang berbeda tapi akhirnya menyatu.

Dalam dunia perfilman memang konsep Beauty and The Beast masih sering diadaptasi dalam berbagai model, mulai dari anak kere cinta sama anak konglomerat, anak desa yang cinta sama anak kota atau rakyat biasa cinta pada anggota kerajaan, dan lain-lain. Konsep film ini masih laris manis dan nyatanya masih sukses meraih simpati penonton. Sebut saja The Heirs, drama korea yang mengisahkan anak pembantu bisu yang mencintai anak majikannya. Drama ini menarik menurut saya, walau saya bukan penggila drama korea, tapi untuk yang ini saya tuntas nontonnya. Meski ada beberapa hal yang sangat klise tapi tetep keren karena tertutupi oleh soundtracknya yang hampir semua bagus-bagus. Dan sampe sekarang saya masih dengerin lagu-lagunya, terutama milik Park Shin Hye yang judulnya Story. Itu lagu bikin gemes sendiri karena satu menit terakhir kaya lagunya Bonjovi yang Never Say Goodbye.

Lanjut Njoot !